Arios, Guru Honorer yang mendukung BLOOM

Portrait Arios : Aktor Program BLOOM

Arios, pemuda berusia 34 tahun, yang kesehariannya menjalani tugas sebagai seorang guru honorer SDK Waipukang di kabupaten Lembata merupakan salah satu fasilitator desa yang aktif dalam mendampingi anak-anak di desa Laranwutun, kabupaten Lembata. Saat ditemui di rumah beliau, beliau menceritakan bagaimana proses pemilihan fasilitator desa. Menurut Arios, “saat itu undangan yang disebarkan berjumlah 100, namun yang datang pada saat itu hanya kurang lebih 30 orang dan sebagian besar adalah orang tua. Yang paling muda adalah saya, berikutnya adalah kakak sepupu saya, terus naik ke atasnya (usia yang masih tergolong muda) adalah kak Eta, terus kak Janu yang PSC itu suaminya, lalu yang lain itu rata-rata adalah orang tua yang kepalanya sudah putih. Ditambah lagi udangan itu semua tokoh dihadirkan. Jadi yang hadir salah satunya adalah Romo Yermit. Setelah mendengar persyaratan, yang lulus hanya saya sendiri. Hasil akhir Romo yang memutuskan PSC pak Yan (Janu), dan Fasilitator Arios dan Mama Eta. Jadi kami sudah di berikan tanggung jawab sehingga kami merasa bahwa ini adalah tanggung jawab yang dipercayakan banyak orang kepada kami. Sehingga kami, dengan tanggung jawab ini akhirnya menjalankan tugas ini.”

Selain Arios dan mama Eta yang bertanggung jawab dalam mendampingi remaja peserta BLOOM, Arios menceritakan juga bahwa desa Laranwutun sangat mendukung kegiatan BLOOM ini, baik dari masyarakat desa, komite pendukung program sampai kepada pemerintah desa. Hal ini diungkapkan oleh Arios kepada tim CIS Timor saat ditanya bagaimana respon pihak-pihak di desa terkait program BLOOM ini.

“di Laranwutun ini PSC jalan, semua baik. Baru-baru ini malah bapak sekertaris desa dan ketua BPD datang dan bertemu saya, yang kebetulan pada saat itu berpapasan di depan karena saya ingin ke kebun. Beliau mengatakan bahwa  bahwa beliau datang cairkan tahap 1 yang kemarin kalian ajukan proposal untuk BLOOM ada dapat bagian, termasuk untuk ATK, baju seragam untuk anak-anak, dan desa juga menyepakati itu akan diberikan dari dana desa. Selain itu diberikan dana juga untuk snack dan kami juga mendapat transport dari dana desa tersebut”.

 Terkait keterlibatan bapak desa dalam BLOOM, Arios mengaku bahwa bapak desa juga terlibat dalam memantau kegiatan-kegiatan BLOOM di desa Laranwutun. Dari pernyataan Arios, diketahui bahwa berkat dukungan dari pihak-pihak di desa ini, maka BLOOM dapat berjalan dengan baik.

“Untuk dibilang mungkin ada beberapa program CIS Timor yang masuk di Laranwutun dan salah satu yang berjalan baik adalah BLOOM.”

 Saat ini diskusi remaja memang sedang ditunda dulu karena anak-anak sedang menyiapkan diri untuk mengikuti ujian sekolah, namun Arios dan mama Eta telah bersepakat menggunakan waktu liburan untuk melanjutkan kegiatan diskusi remaja. Semangat dan komitmen dari kedua fasilitator desa ini tertular kepada para peserta remaja, sehingga mereka memutuskan untuk melakukan diskusi remaja 4 kali dalam seminggu, yakni hari Senin, Selasa, Jumat dan Sabtu.

  “Kami ini sejak pak Achan turun ke desa dan memberikan pengarahan, kami langsung melakukan action. Sehingga kami bilang kegiatan ini harus segera mulai di bulan Februari. Memang di awal ada bongkar pasang juga (pergantian anggota BLOOM yang mengikuti diskusi), sehingga saya dan kak Eta harus melakukan sosialisasi ke orangtua dari beberapa anak secara door to door. Sehingga saat ini sudah ada anggota tetap dan kami sudah belajar sampai mau masuk ke modul 9”

Dari pernyataan Arios di atas, tantangan dan kendala awal pada saat akan menjalankan kegiatan diskusi ini juga dirasa oleh mereka sebagai fasilitator desa. Salah satunya adalah perubahan anggota peserta BLOOM. Namun Arios mengaku telah menemukan strategi bersama dengan Eta (fasilitator desa) untuk melakukan sosialisasi kepada beberapa orang tua, agar anak-anaknya mau terlibat dalam program BLOOM ini.

Untuk perubahan perilaku dari peserta BLOOM, Arios menceritakan “ada anak cewek yang disabilitas kakinya. Jadi kita berusaha melalui program ini bisa menimbulkan kepercayaan dirinya. Hasilnya kemarin dia sudah mau terlibat kegiatan di luar misalnya kemah api kemarin. Dia lebih percaya diri terus kemampuan berbicaranya juga meningkat. Bukan saja hanya satu peserta tapi sebagaian peserta BLOOM sudah berani mengemukakan pendapat. Rata-rata anak laki-laki juga jarang mau mendengarkan orang tua, namun saya lihat mereka sudah berubah. Contohnya anak kak Thomas yang di depan rumah sini, sebelum ikut BLOOM saya tidak pernah melihat dia menyuci pakaian. Tapi setelah ikut BLOOM akhir-akhir ini saya lihat dia sudah mulai cuci pakaian. Saya memperhatikan walaupun kadang dia (remaja laki-laki tersebut) mengeluh, tapi dia tetap kerjakan.

 Dari cerita pengalaman Arios ini dapat dilihat bahwa adanya manfaat dari program BLOOM bagi kehidupan remaja di desa Laranwutun. Selain itu, desa ini telah menunjukkan contoh bagaimana seharusnya kerja sama antar para pihak di desa untuk bersama-sama membangun generasi muda menjadi generasi yang memiliki pilihan-pilihan bijak bagi masa depan mereka.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *