BERMIMPI MENJADI PENGUSAHA MEUBLE

 

“dalam keterbatasan fisik, salah satu misi dalam mimpinya adalah ingin mempunyai  usaha meuble di desa Perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste”

Siang itu pukul 13.03 waktu perbatasan Motaain,  suhu pada siang itu 32 derajat celcius terlihat pada aplikasi pengukur suhu yang ada di Smartphone Xiaomi Redmi 4x.  Memang cukup panas, sinar panas matahari bagai menusuk kedalam kulit dan daging dan seolah akan menjadi daging setengah matang, sangat terasa pada  kedua lengan tangan.  Dengungan mesin motor FIT X 100CC melintas jalan rabat selebar enam meter di dusun Aisik Aiseban Desa Perbatasan Silawan dengan kecapatan 45 kilo meter perjam.

Tepat di samping Pos Tentara atau yang biasa di sebut pos DAMAR dua dari jalan negara Motaain ada sebuah jalan rabat baru, kurang lebih 100 meter dari pos ada sebuah rumah tembok, berdinding batako yang belum plester tapi rapi, disampingnya terdapat satu pondok kecil berukuran 3×4 meter beratapkan seng dengan ruang terbuka. Di depan rumah terdapat tumpukan kosen pintu dan jendela serta ventilasi yang baru saja selesai dikerjakan. Terlintas dalam pondok tadi terdapat seorang paruh baya laki-laki berusia 46 tahun seorang disabiltias sedang melakukan pekerjaan memotong dan membersihkan daun pintu yang terbuat dari papan jati pesanan orang. Dia adalah Bapak Tito Carvalho da Cruz, satu–satunya  penyandang disabilitas daksa yang berprofesi sebagai tukang kayu di Desa Silawan Kabupaten Belu Nusa Tenggara Timur.

Desa Silawan adalah desa perbatasan di Kabupaten Belu atau teras depan Negara Republik Indonesia untuk Timor Leste, terdapat satu pos lintas negara Motaain yang menuju ke Kota Dili-Timor Leste. Dari Atambua dengan kendaraan bermotor bisa ditempuh dalam waktu 20-25 menit ke Desa Silawan.

Bapak Tito sapaan akrabnya mengalami disabilitas sejak  umur dua tahun saat  masih di Timor-Timur dulu sebelum mengungsi pada tahun 1999, entah apa yang membuat itu bisa terjadi  Pak Tito juga sudah lupa kejadiannya, diperparah lagi saat mengungsi ke wilayah Timor Barat di mengalami kecelakaan motor yang menambah beban derita disabilitasnya.

Beliau memiliki seorang istri dari Silawan dan dua orang anak, laki-laki dan perempuan. Namun sayangnya mereka sudah pisah dan istrinya memilih untuk pergi bekerja di luar negeri (Malaysia) sebagai TKI. Sekarang kedua anaknya dibawah asuhan orang tua istrinya.

Saat pertama mengungsi dari Timor-Timur  pada 1999, dia tinggal di Dusun Nanaeklot di Desa Silawan, dia memutuskan untuk kuli bangunan bersama. Beberapa tahun bekerja sebagai kuli bangunan, Pak Tito akhirnya memutuskan untuk  berusaha sendiri dengan  membuka pondok tukang kayu untuk  mengerjakan kursi, meja, lemari  dengan mengunakan peralatan perkakas yang terbatas. Karena kurang mendapatkan orderan, dia bekerja sampingan lagi sebagai kuli bangunan untuk mengisi kekosongan kerjanya sebagai tukang kayu.

Di tahun 2010, dia pindah dari dusun Nanaeklot ke Dusun Beilaka, namun saat ini dusun itu sudah berganti nama menjadi  dusun Aisik Aiseban karena ada pemekaran dusun. Ditempat ini dia memilih tetap membuka kerja nya sebagai tukang kayu, kali ini dia dibantu oleh Natalino, mereka berdua  menjadi satu kelompok kerja. Di tempat inilah Pak Tito terbantukan beberapa perlatan tukang atau perkakas tukang listrik dari CIS Timor lewat Program Youth Voice Inclusive Border atau Suara Pemuda Perbatasan Inklusif, dimana program ini salah satu advokasi dalam desa adalah memperhatikan para kelompok inklusi disabilitas.

Saya sangat terbantukan dengan alat tukang yang di bantu oleh CIS Timor lewat program pemuda ini seperti mesin bor, sponing, skaf dan lainnya, ada  peningkatan pendapatan dari sebelumnya. Kali ini saya kalau kerja kosen misalnya biaya kerja  per kosen saya hitung perlubang 100 ribu rupiah, sedangkan untuk kerja daun pintu dan jendela saya hitung 300 ribu rupiah per pintu. Tapi itu ongkos kerja saja, karena bahan baku kayu atau papannya di tanggung sama yang punya barang”  kata Bapak Tito.

Sejak mendapatkan bantuan dari CIS Timor, Bapak Titio dan Natalino yang membantunya  sudah mendapatkan pendapatan bersih sebanyak lima juta rupiah. “ Ya, sejak saya pakai alat  baru ini saya sudah dapatkan sesuai pesanan itu  sebanyak 5 juta rupiah dan itu nanti kami bagi dua hasilnya bersama Natalino”.  Kali ini Bapak Tito juga bekerja sebagai  perenovasi kuburan warga bila ada yang meminta. “kita kasih ini harga-harga keluarga sa.., kalau mau betul normal berarti biayanya diatas sedikti, soalnya kita di Silawan ini keluraga semua”  kata pak Tito.

Sebagai informasi bahwa warga lokal di Desa Silawan ini punya hubungan keluarga yang erat dengan warga Balibo di Timor Leste, karena pada tahun 1975 terjadi pengungsian dari Timor-Timur karena invasi Militer Indonesia dan sebagian warga Timor-Timur mengungsi ke Timor Barat Indonesia.

Harapan Pak Tito bahwa  di daerah perbatasan ini tidak perlu terlalu berharap bantuan saja dari pemerintah, tapi  juga harus bekerja dan terus kerja. “Kalau kita harap saja bantuan terus, kita di batas ini tidak maju manusianya, saya terima kasih CIS Timor yang sudah bawa program masuk di sini  lewat pemuda dan pemerintah dong” Tito mengingatkan.

Bapak Tito Carvalho da Cruz hanya seorang disabilitas yang menjadi contoh dalam mengembangkan usaha kecilnya,  dia manusia biasa, dengan niat yang besar. Salah satu misi dalam mimpinya adalah ingin mempunyai  usaha meuble di desa Perbatasan Indonesia dan Timor Leste. Semoga mimpi ini adalah sebuah getaran magnet bumi yang tidak bisa kita kirakan, mimpi  akan datang seiring waktu dan tanpa sadar dari manusia itu akan terwujud. *** Anato Moreira

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *