Bersekolah, Bekerja Paruh Waktu & BLOOM

 

Portrait Patrisius Jemalit

Sore itu, 8 Juli 2018, dalam pertemuan Forum Orang Tua Desa Kolisia B, Saya ditemani Bapak Kepala Desa mencoba berbagi cerita dan memotivasi orang tua untuk terus mendorong anak mereka aktif berkegiatan yang bertajuk Remaja MAPAN ini.

Di dekat kami, seorang anak lelaki mengenakan baju berwarna putih dengan garis hijau tebal duduk dengan tenang. Sepintas terkesan bahwa anak ini sedang melamun. Wajahnya juga terkesan menunjukan raut kelelahan. Masih belum lepas pandangan saya dari lelaki kecil ini, tiba-tiba Febi (Fasilitator desa Kolisia) mengacungkan tangan dan menyampaikan cerita inspirasi tentang salah satu peserta BLOOM di desa Kolisia B.

“Padatnya bekerja paruh waktu dan bersekolah, Ia tetaplah menjadi salah satu peserta BLOOM yang masih aktif”

Dalam ceritanya, saya tahu bahwa anak yang dimaksudkan oleh Febi adalah anak yang menarik perhatian saya sejak awal tadi. Nama lengkapnya Patrisius Jemalit. Lelaki muda tampan ini disapa kawan-kawannya sesama Remaja Bloom dengan panggilan Patris.Dia salah satu siswa yang rajin di sekolahnya, SMP Satu Atap Kolisia. Saat ini dia sukses memajukan studinya ke jenjang  kelas 3. Bisa mengikuti ujian dan naik kelas baginya adalah hadiah dari Tuhan.

Ayahnya Robertus Ganggut yang berasal dari Kabupaten Manggarai, sudah 10 tahun meninggalkanPatris yang saat itu masih berusia 8 tahun dan ibunya,Radensia Jene yang merupakan penduduk asli Desa Kolisia B.

Patris yang lahir di Manggarai, 17 Maret 2003 bukanlah remaja biasa. Dia inspirasi bagi kawan-kawannya. Patris dengan tubuh kecilnya harus membiayai sekolahnya dan menambah biaya sehari-hari keluarga dengan kerja paruh waktu. Hampir tidak ada waktu bermain untuk anak remaja seusianya.

Sehari-hari Patris harus membantu ibunya yang bekerja sebagai buruh harian. Seringkali saat lelah Patris akan memilih beristirahat sejenak di atas lumbung padi sambil rebahan. Jika Ia merasa sudah lebih kuat, maka Ia akan melanjutkan pekerjaannya. Setiap hari Patris akan diupah sebesar Rp 50.000,-. Dari pendapatan ini, Patris harus menabung Rp. 25.000,- untuk membayar uang sekolah. Sisanya akan Ia bagi dengan keluarganya untuk memenuhi kebutuhan makan mereka sehari-hari.

Ada yang menarik dari sosok Patris, di antara padatnya bekerja paruh waktu dan bersekolah, Ia tetaplah menjadi salah satu peserta BLOOM di Desa Kolisia yang masih aktif sampai saat ini. Baginya, BLOOM membuat dirinya mengenal dunia baru, dunia yang seharusnya adil bagi seluruh anak remaja. Patris memang sedikit lebih pemalu dibandingkan dengan teman-teman sebayanya dalam kelompok diskusi. Namun semangatnya untuk mengikuti kegiatan BLOOM sampai saat ini sangat tinggi.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *