Partners for Resilience & CARE Indonesia

Partners for Resilience (PfR) Indonesia adalah aliansi lima organisasi kemanusian, pembangunan dan lingkungan yang bekerja bersama-sama membangun ketahanan masyarakat terhadap ancaman bencana.

Newsletter ini berisikan kumpulan berita terkini, perkembangan, peluang dan kegiatan-kegiatan yang akan datang oleh CARE Indonesia, sebagai koordinator aliansi PfR Indonesia.

Keterangan Foto: Dengan kapasitas yang baru hasil pembelajaran PfR I, CIS Timor (Buce E.Y. Ga) mampu menjalankan program baru dengan dukungan LSM lain seperti Plan International Indonesia

 

Upaya Replikasi program PfR oleh CIS Timor di wilayah lain di NTT
 
Konsep Program PfR menjadi titik perubahan penting bagi CIS Timor karena sangat kuat dalam strategi membangun ketahanan masyarakat melalui kemitraan. Kerjasama multi aktor di desa dan kabupaten menjadikan program PfR sangat terintegrasi baik. Integrasi model adaptasi terhadap bencana kekeringan dalam sektor ketahanan pangan, pengelolaan air dan konservasi lingkungan pada wilayah Daerah Aliran Sungai adalah ciri khas PfR. Hasilnya menjadi inspirasi utama CIS Timor dalam pengembangan program lain seperti Strategic Planning and Action to Strenghthen Climate Resiliance of Rural Communities in NTT, kerjasama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, UNDP, BAPPEDA NTT, dan GEF. CIS Timor terpilih karena memiliki pengalaman bekerja PRB/API pada wilayah dengan potensi bencana kekeringan bersama PfR. Pembelajar PfR yang telah direplikasi seperti diseminasi informasi iklim kerjasama dengan BMKG, penyusunan rencana aksi sebagai acuan perencanaan pembangunan desa dimana PRB/API telah menjadi program prioritas, aksi-aksi adaptasi perubahan iklim berbasis masyarakat, pelibatan multistakeholder dalam pokja iklim desa dan kabupaten.

CIS Timor saat ini mengintegrasikan konsep PfR dalam program Adaptasi Perubahan Iklim yang berfokus pada Anak bekerja sama dengan PLAN. Program Membangun Ketahanan Pangan dan Air Bersih untuk Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim bekerjasama dengan ICCTF dan BAPPENAS serta Program pengurangan emisi melalui peningkatan pendapatan  masyarakat rentan bekerjasama dengan MCA-Indonesia.

Keterangan Foto: Tanaman sayur-sayuran dan buah-buahan di Laboratorium Lahan Kering UNDANA

Laboratorium Lapangan Terpadu Lahan Kering dan Kepulauan di UNDANA dalam Kolaborasinya dengan PfR SP

Program PfR-SP oleh CARE dan CIS Timor berhasil mendorong kemitraan dengan Universitas Nusa Cendana (UNDANA) yaitu laboratorium lapangan terpadu Lahan Kering dan Kepulauan.

Pada PfR I, akademisi terlibat aktif membantu pemodelan, implementasi serta monitoring dan evaluasi mitigasi skala kecil. Tri Dharma Perguruan Tinggi mangamanatkan UNDANA pada riset dan pengabdian masyarakat yang berkualitas dan strategis melalui kemitraan dengan LSM dan masyarakat.

Saat ini, PfR-SP mendorong replikasi dan perluasan praktik pintar IRM di NTT dengan empat strategi kunci yaitu : pertama, mengumpulkan evidence praktik pintar dan dokumentasi dalam bentuk informasi dan komunikasi serta terbuka untuk dikembangkan melalui riset lanjutan (Misal, seberapa efektif irigasi tetes terhadap produksi ubi jalar ungu atau pepaya Kalifornia). Peran UNDANA sebagai pusat ilmu pengetahuan melalui Laboratorium Lahan Kering sangat medukung keberlanjutan PfR-SP. Kedua, memelihara evidence memerlukan strategi dimana praktik terbaik PfR sebaiknya tetap ‘terlihat’ kepada pihak terkait seperti Pemda NTT dan DPRD. Laboratorium Terpadu Lahan Kering UNDANA bisa menjadi tempat belajar dan pembanding di NTT. Ketiga, UNDANA sebagai tempat produksi tim ahli dan think tank para bupati dan Gubernur NTT dalam memberi input strategi. Keempat, mudah untuk diakses oleh masyarakat. Keempat elemen kunci ini menggerakan CARE untuk meloby UNDANA agar memberi ruang bagi praktik pintar mitigasi skala kecil.

Keterangan Foto: Proses pelaksanaan Audit Gender di desa Oelbiteno, Fatuleu Tengah

Internal  Audit Gender: Langkah besar CIS Timor agar peka gender

Audit Internal Sensitivitas Gender oleh CIS Timor bertujuan memeriksa sensitivitas gender organisasi dan implementasi program,  memotret capaian organisasi dalam pengintegrasian gender serta menjadi dasar penyusunan rencana aksi untuk memastikan internalisasi dan keberlangsungan nilai gender. Tahapannya adalah persiapan audit, survei, FGD, pemanfaat, pemangku kepentingan, rencana aksi dan pelaporan.

Desa Oelbiteno dan Nunsaen menjadi lokasi pelaksanaan. Ditemukan bahwa PfR I telah memberi dampak positif bagi perempuan dan laki-laki. Misalnya, pengembangan jaringan air bersih membantu meringankan beban perempuan dan anak.

Seperti kesaksian Mama Alponia Kake: “Dulu kami ambil air musti jalan jauh trus sonde (tidak) aman ju (juga) untuk perempuan. Bahkan ada yang hampir diperkosa karena jalan sendiri;sekarang air ada di tengah kampung jadi  lebih aman, hemat tenaga dan waktu. Mau tanam di rumah juga air dekat jadi lebih semangat dan makan sayur sonde tunggu hari pasar lai tapi tinggal ambil di kintal (halaman)”

Juga ditemukan akses terbatas dan partisipasi rendah perempuan dalam proses perencanaan pembangunan. Apapun pendekatan program dan isu yang dikerjakan, penguatan kapasitas perempuan mutlak dilakukan.

Saat ini proses audit gender memasuki tahapan penyusunan rencana aksi, sosialisasi dan pelaporan. Langkah ini diambil CIS Timor karena siap keluar dari zona aman, menata organisasi menjadi lebih baik dengan melakukan perubahan agar lebih peka gender.

 

Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) di NTT

Mengusung tema “Membangun Kesadaran dan Kewaspadaan dalam Menghadapi Bencana.” pemerintah NTT melalui BPBD menyelenggarakan Hari Kesiapsiagaan Bencana (HKB) dengan kegiatan seperti dialog interaktif, simulasi bencana tsunami, dan seminar forum PRB NTT. Perayaan HKB baru dimulai tahun ini. Sebagai lembaga mitra, CARE terlibat langsung dalam kegiatan dialog interaktif radio dan TVRI serta mendukung partisipapsi peserta dari Forum PRB TTS.

CARE juga mempromosikan Manajemen Resiko Terpadu (MRT) kepada publik NTT. CARE menghimbau sudah saatnya proses pembangunan di NTT memperhatikan pendekatan terpadu yaitu API, PRB dan Ekosistem dimana para pembuat kebijakan harus memiliki cara pandang holistik dan cerdas ekosisitem dalam perencanaan pembangunan. Seperti pembangunan pemukiman dengan pendekatan kawasan dimana tersedia ruang terbuka hijau untuk wilayah resapan air yang berfungsi menjaga keberlanjutan siklus air tanah serta mengurangi risiko banjir dan erosi juga perhatian pada kearifan lokal.
 

Menurut Kalak BPBD NTT, perayaan HKB merupakan resonansi bagi upaya pengurangan risiko bencana di NTT.  Simulasi tsunami di kelurahan Nunbaun Sabu melibatkan murid sekolah agar dapat membangun pemahaman dini tentang kesiapsiagaan dalam menghadapi bencana. Wakil Walikota Kupang, Herman Man menegaskan bahwa untuk menciptakan wilayah dan masyarakat tangguh perlu koordinasi dan PB yang baik di setiap level, ada SOP, tenaga terampil, pelatihan serta penganggaran yang cukup.

Keterangan Foto: Dialog interaktif radio dan televisi untuk penyebarluasan informasi bencana bersama BPBD NTT, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ketua forum PRB NTT dan CARE Indonesia

IRM Champion
 Yulius Nakmofa adalah pegiat Pengurangan Risiko Bencana yang sangat dikenal di NTT. Yulius memulai kiprah dalam pemberdayaan masyarakat pada tahun 1991-1994 dengan program GERBADES (Gerakan Membangun Desa) yang merupakan program strategis Gubernur pada masa itu. Kemudian melanjutkan kiprahnya sebagai pegiat pemberdayaan Inpres Desa Tertinggal (IDT) tahun 1994-1997.
 
Figur ramah yang biasa disapa ‘om Yus’ ini mulai tertarik dalam pemberdayaan ketangguhan masyarakat terhadap bencana saat terlibat dalam pemberian bantuan ayam untuk desa Toeneke yang mengalami kekeringan menjadi sia-sia ketika bantuan itu tak terselamatkan saat terjadi banjir. Pengalaman memberikan bantuan tanpa melakukan kajian risiko bencana yang tepat membuatnya selalu mengingatkan agar melakukan kajian risiko bencana sebelum mengimplementasikan program, sehingga intervensi yang dilakukan dapat berdaptasi dan tangguh terhadap bencana.
 
Menurutnya, saat ini perkembangan isu PRB sudah lebih terintegrasi. Bagi om Yus bekerja dalam isu PRB bukanlah soal uang tetapi kepuasan batin ketika seluruh masyarakat mau mengimplementasikan isu PRB dalam pembangunan yang berkelanjutan. Sebagai ketua Forum PRB NTT, dia sering mendorong keterlibatan aktif semua pihak untuk bersinergi dalam kerja PRB. Om Yus juga memberikan sumbangsih yang signifikan bagi pencapain program PfR  baik sebagai fasilitator maupun konsultan teknis. Terimakasih om Yus untuk karyamu selama ini, teruslah mengabdi untuk katangguhan masyarakat Indonesia khususnya NTT. Salam Tangguh.

Yulius Nakmofa – Direktur Perkumpulan Masyarakat Penanggulangan Bencana Ketua Forum PRB NTT
Copyright © 2017 CARE International Indonesia, All rights reserved.
CARE PfR Indonesia Newsletter

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *