“Hidup Kami adalah Mangrove”

Catatan Perjalanan :
“Menemukan Pengetahuan Pengelolaan Risiko Terpadu (IRM) di Desa Bedono Kabupaten Demak Propinsi Jawa Tengah, 8-9 Agustus 2018”

Oleh : Haris Oematan | Direktur Perkumpulan Relawan CIS TIMOR

 

“Budaya mangrove telah menjadi budaya baru bagi masyarakat. Mereka mampu mengembangkan wisata mangrove dengan pengolahan hasil panen mangrove…..”

©Muchrizal Haris

Siang hari pada 08 Agustus 2018 kami berkunjung ke Desa Bedono di Kabupaten Demak. Desa ini kurang lebih 8 km dari Kantor Bupati Demak. Terletak diwilayah pesisir utara pulau jawa. Jalanan yang sempit membu sulitat setiap kendaraan harus berhati dan penuh waspada. Kenapa ? Karena air laut ada di kiri dan kanan jalan, sehingga jalan raya terus dibuat lebih tinggi dan dicor beton agar tidak rusak di hantam Banjir dan Rob. Disepanjang jalan terlihat rumah-rumah berjuang melawan datangnya air. Pondasi dibuat lebih tinggi, kurang lebih satu meter dari permukaan tanah. Halaman rumah diurug lebih tinggi agar tidak kemasukan air akibatnya pintu rumah menjadi sangat rendah dan kendaraan bermotor tidak dapat lagi dimasukkan ke dalam rumah.

 

Menurut Pak Agus Kades Bedono, mereka yang tinggal diujung kampung adalah warga desa Bedono di kampung sebelah yang wilayahnya telah hilang dampak abrasi dan penurunan muka tanah. Sepanjang jalan menuju Balai pertemuan, saya bersama rombongan dari Kenya dan Belanda dibuat terkejut melihat makam warga yang mulai tenggelam dan beberapa rumah warga yang jaraknya 50 m dari jalan sudah ditinggalkan penghuni karena tenggelam.
Sungguh tragis kondisi mereka.

©Muchrizal Haris
©Muchrizal Haris

Menurut pak Taufik dan Istrinya yang saya temui dirumahnya berkata 20 tahun yang lalu mereka hidup nyaman ditanah mereka. Mereka menjadi penghasil pangan, seperti padi, jagung, pisang, kelapa dll, sekaligus penghasil ikan bandeng dan hasil laut lainnya. Tetapi yang terutama adalah sebagai petani. Sekarang kami tidak lagi bertani dan hanya mengandalkan hasil laut. Dahulu kami juga bukan tinggal ditempat ini. Kami tinggal di kampung sebelah. Kami terpaksa merelokasi diri kami bersama warga sekampung. Istrinya dengan wajah sendu bercerita kalau awal-awal kami sangat susah. Kami kehilangan mata pencaharian dan lumbung kami kosong. Kami bekerja apapun yang bisa kami lakukan atau bekerja serabutan, termasuk mencari pekerjaan di Kota Semarang dan menjadi buruh pabrik.

Bisa dibayangkan kesusahan mereka, karena dalam 15 tahun terakhir sejarah mereka berubah. Sejarah tempat tinggal yang berganti dari daratan menjadi lautan, dari pemilik lahan menjadi pendatang, dari pilihan mata pencaharian dari petani dan nelayan menjadi hanya nelayan, dari banyak tempat bermain sekarang sangat sempit, dari penghasilan yang dapat dibuat senang-senang sekarang harus terus membeli tanah urugan, pokoknya pusing sekali.

Banjir ROB ternyata berdampak sangat dahsyat. Mungkin tidak seperti bencana lainnya yang menghilangkan nyawa. Banjir Rob dapat menghilangkan sejarah. Saya teringat salah satu iklan yang slogannya Tanya Kenapa ?. Apakah karena proyek tambak bandeng yang dibuka besar- besaran pada tahun 2005 dan menghabiskan 30 – 50 % hutan mangrove ?

Menurut Bapak Taufik dan sebagian besar masyarakat yang saya temui mengatakan bukan karena tambak, tapi ini karena proyek reklamasi di kota semarang sehingga sebagian air laut berpindah ke Desa Bedono dan Desa-Desa lainnya diwilayah pesisir. Tapi apakah mungkin demikian karena banyak wilayah yang direklamasi seperti di Jakarta, Kupang dan Menado yang pernah saya kunjungi dampaknya tidak demikian.

Kegelisahan ini dijawab oleh BPBD, Bappeda Kabupaten Demak, Wetlands dan PMI yang tergabung dalam project PFR saat Presentasi di Kantor Bupati Demak bahwa persoalan utama yang dialami oleh Desa-Desa Pesisir di Kabupaten Demak adalah karena Penurunan muka tanam sedalam 15 Cm pertahun dan Abrasi. Penurunan muka tanah jika dihitung dari 2015 hingga 2018 maka kurang lebih 1,5 – 2 m. Hal ini diperparah dengan kerusakan ekosistim pantai dengan berkurangnya jumlah pohon mangrove akibat pembukaan tambak-tambak bandeng menyebabkan abrasi pantai dan air laut masuk kewilayah pemukiman sejauh 500 m s/d 1000 m.

Penurunan muka tanah dicurigai karena eksploitasi air tanah yang berlebihan dengan penggunaan sumur bor oleh masyarakat dan pabrik-pabrik yang ada di Demak, khususnya pabrik kain batik yang harus menggunakan air dalam jumlah banyak mencuci kain serta pabrik-pabrik lainnya. Setiap tahun proses pengeboran air semakin dalam, kalo dulu bor air maka air langsung keluar tanpa harus menggunakan mesin maka saat ini harus dilakukan pengeboran air sedalam 30 m keatas bahkan hingga 100m. Rongga-rongga tanah ini mengakibatkan longsor bawah tanah dan penurunan tanah secara signifikan.

Apa yang telah dilakukan ?

Saat berkunjung di Desa Bedono kami melihat banyak populasi pohon mangrove yang baru ditanam 5 tahun terakhir tumbuh dimana-mana. Pohon mangrove paling banyak terlihat di seputaran rumah-rumah warga, khususnya dibelakang rumah warga, sebagai pembatas dan pelindung tambak-tambak bandeng warga, di wilayah pesisir batas atara laut dan pemukiman warga dan sepanjang Daerah Aliran Sungai. Terdapat kurang lebih 20 jenis mangrove dengan kesesuaian lahan yang ada. Masih terlihat mangrove alami yang ada. Menurut ahli mangrove Wetland hasil ini tidak datang dengan mudah. Butuh waktu 2 tahun, dari tahun 2013 – 2014 untuk membentuk cara berpikir masyarakat. Kami berdiskusi sangat panjang untuk meyakinkan masyarakat bahwa untuk mengurangi dampak abrasi harus dilakukan dengan kembali memperbayak mangrove. Pernyataan ini di sampaikan oleh Bapak Agus Kepala Desa Bedono saat menjamu rombongan kami dengan mengatakan bahwa dahulu kami hidup bersama mangrove, lalu menebangnya dan mengganti dengan tambak, dan saat ini kami kembali hidup bersama mangrove. Seandainya kami dapat berkompromi sejak awal dengan melakukan aktivitas ekonomi yang ramah mangrove maka kondisinya tidak separah sekarang.

©Muchrizal Haris

Saat berinteraksi dengan warga terlihat mereka telah mulai bermilitansi dengan Mangrove. Budaya mangrove telah menjadi budaya baru bagi masyarakat. Mereka mampu mengembangkan wisata mangrove dengan pengolahan hasil panen mangrove seperti snack dari buah bunga mangrove, konsumsi getah mangrove, dan rencana pengembangan kripik mangrove. Pengembangan pembibitan mandiri dan penanaman secara continue. Kalo saya mau bilang maka masyarakat Bedono sama dengan mangrove. Hal ini menjadi keberhasilan yang utama dalam project ini. Salut untuk teman-teman Wetlend.

©Muchrizal Haris

Pemerintah Desa terlihat sangat termotivasi dengan program PFR. Kebijakan program dan penganggarannya terlihat jelas dan nyata yakni kebijakan untuk memperbenyak mangrove sebanyak-banyaknya, mendukung mata pencaharian masyarakat dengan pengolahan kepiting, udang, dan tambak selaras alam. Pemerintah Desa juga mengalokasikan anggaran untuk mendukung infrastruktur yang tahan bencana dan mendukung desa wisata mangrove.

Apa pembelajarannya ?

Pertama yang terlihat sangat kuat adalah kesadaran masyarakat akan risiko bencana yang terjadi. Mereka sadar bahwa persoalan ini bukanlah menjadi persoalan individu tetapi semua orang. Hal ini membuat semua warga berkewajiban menjaga ekosistim pantai dan beradaptasi dengan penguatan mata pencaharian. Mereka juga sadar bahwa ancaman untuk direlokasi ketempat lain akan semakin memperparah kehidupan dan sejarah hidup mereka.

Kedua adalah kekuatan pengorganisasian; Pak Hambali sebagai ketua kelompok dan anggota memiliki spirit keswadayaan dan semangat yang sangat luar biasa. Hal ini ditunjang dengan manajemen yang transparan sehingga mampu mengeliminir prangsangka dan konflik antar anggota kelompok.
Ketiga adalah partisipasi dan dukungan Pemerintah Desa dan Kabupaten dalam menyelesaikan dampak bencana ROB di Desa Bedono. Relokasi penduduk, dukungan infrastruktur pemukiman dan jalan, penetapan desa wisata mangrove dan infrastruktur pendukung, dukungan modal bagi penguatan mata pencaharian dan alokasi dana untuk membuat tanggul-tanggul beton serta gerakan sosial pengembangan budidaya mangrove.***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *