Kemiskinan Pedesaan dan Dolfina (Kritik Terhadap The Gap Trap)

Zet Malelak

(Motivator /Akademisi)

Menjual diri, menjual organ tubuh, menjadi babu, cerita ini menjadi diskusi amtenar sampai diskusi pinggir jalan yang tidak pernah putus – putus. Sedih, malu, miris entah apalagi yang mesti saya sampaikan dan selalu berulang tidak terdengar sebuah berita sukses dari tenaga kerja kita atau orang-orang yang dicap seperti itu. Berita yang sangat sadis bahwa sudah ada harga dari masing-masing organ tubuh manusia, tidak berpri kemanusiaan. Mungkin atau itu sedang terjadi model sistem pasar yang dikatakan oleh Adam Smith diatur oleh tangan – tangan tidak kelihatan (impossible hand).

Rabu Ratapan di depan Polda | Foto : Frengki Lolo

Kalau ditinjau dari segi ekonomi mungkin kita sedang berjalan kesana karena prinsip ekonomi adalah legal dan ilegal. Ekonomi tidak ada yang bermoral, keuntungan menjadi ukuran, kompetisi dianggap kebenaran hakiki, yang tidak mampu bersaing bagian yang akan menjadi sumber daya (budak). Manusia sudah dianggap komoditi tidak berbeda dengan batu, kayu dan peralatan teknis lainnya. Gejala pemikiran Adam Smith merajalela dimana- mana pelaku ekonomi baik rumah tangga, perusahaan dan negara berlomba-lomba mencari keuntungan. Mungkin saya ingin mengatakan ini model ekonomi kapitalis, sosialis atau pancasila. Tuduh menuduh pelaku, barang bukti , tangkap sana tangkap sini menjadi bagian dari kegiatan ekonomi dan politik tetapi tidak menjadi bagian dari kegiatan hidup. Ketakutan saya fenomena ini akan menjadi kebiasaan dan selanjutnya akan ada pendapat bahwa ya ini kan kearifan lokal harus di pelihara mengapa harus dihapus.

Turut Berbela Sungkawa

Para ahli, rohaniawan, mahasiswa, LSM, melakukan advokasi, berdemo dan membakar lilin dimana- mana, membuat lingkungan menjadi kotor karena limbah lilin baik dari cairanya maupun akibat asap.  Sejak kecil yang saya tahu lilin itu fungsinya untuk penerangan, dan setelah dewasa yang saya tahu untuk pengawetan buah. Apa yang didemo, apakah memperketat aturan, mengkangkap okum, mencela, ataukah menghentikan pengiriman?

Zet Malelak sedang mentransfer ilmu pengetahuan tentang irigasi tetes kepada masyarakat Sumba Barat, di Desa Mataredi

Ceramah dan tulisan – tulisan yang dibangun para ahli mentah tidak berakar terbawa emosi belasungkawa malahan terbawa emosi juga mau menjadi hakim. Saya kira mereka semua tidak mengetahui akar persoalan yang sebenarnya yakni; adanya kemiskinan pedesaan yang sedang mengkronis di seluruh wilayah NTT. Saya bekerja dikota Kupang tetapi saya tinggal diKabupaten Kupang di desa Nunkurus selama kurang lebih 17 belas tahun karena megikuti istri saya seorang rohaniawan. Saya mengenal dengan baik persoalan di pedesaan, saya studi sosialnya, antropologinya dan juga moral dan ekonominya secara baik dan berseri.

Saya takut banyak ahli memberikan pendapat yang keliru malahan salah (error 99%) karena dia hanya membaca koran, dengar cerita, isu, dan mengambil keputusan. Saya katakan demikian bukan saya berkeinginan disebut maha tahu dan maha pintar tetapi saya berkeinginan mari kita mengeluarkan pendapat, berdemo dan turut berbela sungkawa adalah sebuah model dengan data yang kuat dan valid untuk pembebasan, dan membangun solusi untuk mengakhiri sebuah masalah.

Portrait Zet Malelak

Dan untuk melakukan itu perlu sebuah kajian yang mendalam dari persoalan-persoalan yang muncul. Misalnya ada pertanyaannya mengapa mereka mau menjadi budak, menjadi TKI, TKW, menjual diri alias WTS, menjual organ tubuh baik kerelaaan maupun paksaan? Ini harus mejadi pertanyaan serius dan ini merupakan titik belang sungkawa para ahli. Jawabannya sederhana yakni mereka membutuhkan uang (ringgit, pezo dan dinar). Ingat mereka harus makan, mandi cuci, pesta adat, membuat rumah, penampilan dan semua itu butuh uang. Tetapi ada pertanyaan kepada saya; “Zet, apakah kanu tahu kalau mereka masih punya kegiatan pertanian, peternakan yang dapat menghasilkan uang untuk semua itu?”.Ia tetapi tidak cukup sebab ada gap besar antara pendapatan dan pengeluaran.

 

Gap ini yang menjebak mereka melakukan seluruh hal yang akibatnya kita berbelasungkawa. Banyak faktor X yang membuat terjadi gap itu. Gap itu momok gap itu yang mestinya dimaki-maki dipenjarakan malahan digantung dan ditembak mati bukan oknum, karena oknum juga bagian dari jebakan gab itu. Sehingga yang saya ingin katakan disini bahwa hukum harus mampu menghukum gap. Kesalahan para ahli apabila tidak memiliki atau tidak mampu melihat faktor X penyebab gap.

 

Diagnosis yang mestinya menjadi kunci solusi ternyata diagnosisnya tidak tepat. Sebuah dalil mengatakan pertambahan penduduk yang tinggi, kemerosotan lingkungan, ketersediaan faktor produksi yang rendah menyebabkan makluk hidup tertekan dan biasanya apabila ekositem tertekan maka ekosistem itu akan mati atau untuk mempertahankan diri dia akan bertebaran tidak beraturan dan salah satu efek dari tebaran manusia yang bagian dari ekositem desa sekarang adalah menjual diri, TKI, TKW, dan dan lainnya. Dan model seperti ini juga terjadi di semua sistem ekositem baik ekosistem yang hidup maupun ekosistem pada organisasi berbasis kerohanian, pendidikan, politik dan organisasi macam apapun. Kalau begitu analisisnya, pertanyaan lanjutan akan di apakan dengan kasus kemiskinan pedesaan, Dolfina, dan ketiadaan uang tersebut kita para ahli sudah mengkotakan dan segera mejadi target perbaikan? Bukan menangis, bakar lilin jaga mayat, uang kompensasi, otopsi, berang, cuci maki bukan sekali lagi bukan itu. Karena dengan cara itu kita tidak akan punya waktu untuk menyiapkan strategi ekonomi untuk versus strategi ekonomi impossible hand.

Bupati Sumba Barat Daya, Markus Dairo Talu, SH dan Zet Malelak sedang bekerja sama meletakan arang dalam tanah — di Sumba Barat Daya.

 

Karena ekonomi yang satu hanya bisa ditandingi dengan stategi ekonomi yang lain. Saya juga pernah diajak melayat salah satu TKI yang meninggal di luar negeri, mayatnya dibawa sampai dikampung ditanggung biayanya oleh negara secara bulat malahan lebih. Banyak orang menangis menyambutnya saya juga menangis tetapi alasan saya menangis bukan karena kematian itu, karena saya tahu bahwa kematian menurut iman kristen adalah kemenangan. Tetapi saya menangis kepada diri saya yang tak mampu mempertahankan hidup TKI tersebut. Saya sebagai ahli pertanian mestinya harus mampu memperkecil gap itu ternyata saya juga bagian yang ikut berbela sungkawa malahan saya tidak membawa apa-apa karena saat itu saya belum gajian. Ingat air mata tidak/ bukan jalan keluar untuk mempertahankan dan membahagiakan hidup seseorang.

Kemiskinan Pedesaan dan Desa

Pendapatan perkapita dibawah 2 dolar dan menurut standar bank dunia ini sangat-sangat miskin. Dan apabila dalam rumah tersebut terdapat semua orang dewasa yang dapat melakukan akses kerja maka per hari RT tersebut dapat mengumpulkan Rp. 60.000 tetapi apabila hanya ada dua orang dewasa dan 3 anak kecil maka rumah tangga tersebut hanya mampu mengakses Rp. 30.000 anda bayangkan dengan pendapatan demikian bagaimana mereka berbelanja untuk melakukan aktifitas hidup dan berkembang. Kalau hidup mungkin ya tetapi untuk berkembang?

Zet Malelak sedang memfasilitasi masyarakat desa Sumba Barat tentang Bank Pohon

Mungkin ada ahli yang katakan kan mereka dapat mengakses sumber dari alam untuk memenuhi kebutuhan, jawabanya ya, tetapi itu dulu sekarang tidak karena sumber daya semakin terbatas. Desa hanya menjadi tempat lahir dan tempat bertahan hidup. Desa tidak lagi menjadi house, sorga dan janji manis serta kebahagian abadi. Yang ada adalah kebahagiaan yang pura-pura. Desa menjadi pusat sex terselubung, utang-piutang, pencurian hasil pertanian dan ternak, pusat penyakit, eksploitasi hasil alam yang tinggi (pasir, batu, kayu bakar, obat tradisional) mungkin desa hanya berbahagia karena ada Natal di 25 Desember ya sehari. Dengan cerita singkat tentang desa tersebut maka, negara, dan berbagai LSM dan berbagai orang bersepakat bahwa bahwa Desa mesti dibangun. Setiap Bupati, Gubernur, Menteri menciptakan begitu banyak dana dan model untuk atau memperkecil persoalan yang muncul didesa.

 

Dana desa menjadi pusat diskusi, dana desa menjadi perang politik, dana desa menjadi ajang penerimaan tenaga kerja sarjana, dan dana desa menjadi incaran para pedagang kelontong, bangunan, hiasan, makan minum, dan dana desa menjadi incaran pedagang minyak wangi serta bahan kecantikan palsu. Tidak percaya coba anda dan para ahli bermain dipasar pasar mingguan di pedesaan dan melihat geliat yang terjadi di pasar tersebut yang terjadi adalah trik penipuan dan kapital flig.

 

Dana desa dipakai membangun hal- hal yang tidak strategis. Analisis hal yang paling esensial tidak tercapai, diagnosa yang keliru maka obatnya pun keliru. Orang – orang ribut bahwa infrastuktur itu penting pertanyaannya infrastruktur yang mana, apakah jalan, jembatan, puskesmas, posyandu dan kantor desa. Jalan dibagun hanya untuk mempermudah masuk pedagang dan barang industri dan bukan untuk sebuah alat tarsaksi barang dan jasa. Orang kota berpiknik kepedesaan karena ada jalan yang bagus tetapi semua makanan, minuman apa saja dibawah dari kota. Desa menjadi penonton ya ada sedikit tersisa uang untuk tukang parkir. Tidak ada diskusi yang serius misalnya, apabila ada dana maka dana tersebut diprogramkan untuk membangun orang (start with people).

 

Start with people sebuah solusi

Banyak orang minta dana untuk pembangunan, minta fasilitas, minta ini minta itu dan berdoa dengan berbagai gaya dan bahasa kepada Tuhan. Dan semua itu sudah dilakukan bangsa ini baik sebelum merdeka, merdeka dan sampai detik ini, membentuk proyek sana sini membuat program dengan berbagai analisis. Pertanyaannya berapa persen biaya, atau program yang diminta itu untuk merubah orang itu, memperbagus orang itu, menambah cakrawala berpikir orang, membuat orang jadi cerdas dan kritis. Isi musrembang tergiring ke belanja barang yang fisikal yakni barang yang dapat dilihat dan diraba tidak barang transformasi.

Zet Malelak bersama masyarakat

 

Mungkin ada yang menjawab Zet, kan sudah ada sekolah ya benar tetapi sekolah seperti apa. Yang ada tembok, kursi bangku tetapi tidak ada barang transformasi untuk perubahan. Di bagian mana tercantum program dari dana desa yang membuat Dolfina dan sebangsanya, tidak tinggalkan desa atau kalau tinggalkanpun Dolfina akan mampu bersaing diluar sana dan tidak mati konyol. Saya berani katakan bahwa semua program tidak menyentuh kebutuhan Dolfina dan teman- teman sejenisnya. Dan kalau begitu persoalannya bagaimana solusinya? Saya merekomendasi satu solusi yakni harus menggangarkan sebuah model pendidikan tranformasi yang dapat memperkecil gap. Kita harus mulai dengan membangun orang, orang menjadi titik berangkat dan titik akhir dari program. Orang harus diberi ilmu cara berpikir, cara beraktifitas dibidang ekonomi dan spiritualitas.

Ibu-ibu dari kabupaten Sumba Tengah & Sumba Barat sedang mengikuti pelatihan Pertanian Rendah Emisi

Banyak orang katakan kami sudah membangun sekolah SMK dimana – mana untuk menghasilkan praktisi, ya tetapi sekolah itu isinya tembok, kursi lemari dan sedikit guru yang keahlian dan profesionalismenya pun masih perlu dipertanyakan bagaimana bisa menghasilkan paraktisi. Tidak ada peralatan, komputer, oven, mesin cuci dan alat – alat peraga yang baik ya sekedar ada sekolah dan hanya terdapat barang fisikal bukan barang transformasi. Dan ini tidak berbeda dengan banyak gereja berdiri dimana- mana tetapi orang bringas dan korupsi juga dimana- mana. Bangun puskesmas, posyandu, lemari, kursi dan beberapa petugas medis, tidak ada susu, daging , telur dan madu, apel , jeruk pisang, bagaimana orang bisa sehat secara berkelanjutan. Juga ada bangun jalan yang bagus yang hasilnya adanya kendaraan lewat. Juga bangun bendungan yang ada adalah pasir batu dan lumpur bukan air.

 

Dan begitu banyak program yang tidak membangun orang. Dengan demikian, apabila ingin menghilangkan traficking, WTS, TKI, TKW hanya ada satu jalan bangunlah program yang dapat memperkecil gap. Yakni marilah bersama–sama dana desa itu kita pakai untuk membangun orang atau mentrasformasi cara berpikir orang. Dan orang yang dimaksud itu, bisa gubernurnya, bupatinya, DPR, kepala desa, pendamping, dan orang desa. Sebab perlu ada ketahuai bahwa desa adalah sekumpulan orang- orang berkumpul berkeinginan atau tempat menghuni sekelompok keluarga atau hunian orang dengan sifat atau tampilan bijak dan memilki cinta yang sejati dan bersahaja baik antara mereka itu sendiri dan lingkungannya, Ingat Desa bukan batu, kayu, bukan hutan, bukan air, bukan mangan, jembatan dan barang fisikal lainnya, tetapi Desa adalah sekumpulan orang.

 

Semoga kita dapat memahami dengan baik apa itu desa. Dan banyak orang tidak tahu apa itu desa maka dia tidak akan mampu membangun desa sampai kapanpun, dan dengan uang berapa banyakpun. Filsafat mengatakan kalau membangun batu dapat batu, bangun kayu dapat kayu tetapi kalau bangun orang maka akan dapat orang terserah sekarang dana desa mau dipakai untuk membangun apa. Bangun Dolfina atau bangun posyandu, jalan, jembatan, terserah. Hasil penelitian saya tentang dampak pemasangan listrik kedesa- desa hanya menghasilkan anak-anak meminta motor baru yang mahal, waktu lebih banyak menyaksikan film, berita pemerkosaan, pembunuhan, korupsi dan perkelahian para elit dan pemilu. Tidak ada satu stasiun televisipun menayangkan hal- hal yang berbau transformasi ke cara berpikir ekonomi dan spriritualitas. Terus kalau begitu untuk apa kita memasang listrik ke desa dan tidak diikuti oleh hal- hal yang dapat merubah sesorang menjadi lebih hebat. Pemasangan listrik ke desa hanya menguntungkan kapitalisme listrik dan televisi, bukan orang desa (Dolfina).

Kepala desa Molie, Kab. Sabu-Raijua (baju hijau) berdiri di depan Sumur Resapan buatan warga desa
Petani rumput laut desa Eiada, Kab. Sabu Raijua

Semoga tulisan ini dapat mengajak kita berrefleksi dan berdiskusi dengan tingkat intelektual yang tinggi agar mendapatkan sulusi yang strategis bukan meninggalkan begitu banyak orang miskin dan bego dipedesaan sehingga membuat ketergantungan kepada politikus.**



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *