Mama Getrudis dan Usaha

Menganyam Topi

Mama Getrudis Atawolo sedang menganyam topi di rumahnya. © Foto Ignas

Sekarang, saya sudah bisa menganyam topi dari lontar. Setiap waktu luang, setelah pulang dari kebun, saya terus menganyam topi. Beberapa ibu juga datang belajar menganyam bersama saya di rumah.

Nama saya Getrudis Atawolo, warga RT tujuh dusun empat Lingilamadale desa Lamadale Kec Lebatukan Kab Lembata. Saya memiliki dua orang anak. Kedua anak saya sudah berkeluarga. Suami saya merantau di Malaysia sejak tahun 1983 dan tidak pernah kembali.

Saya bekerja sebagai petani kebun. Jarak kebun saya dari rumah tiga kilometer. Setiap hari saya pergi kekebun berjalan kaki. Saat subuh, saya sudah berangkat; sore harinya, saya pulang membawa kayu api dan hasil dari kebun.

Tahun ini kami mengalami ancaman angin kencang. Saat angin terjadi, tanaman jagung dan padi sedang berbunga sehingga banyak dari tanaman kami rusak dan kami hampir gagal panen. Itu membuat stok makanan kami kurang dalam tahun ini.

Suatu hari, saya didatangi ketua tim siaga bencana desa Lamadale Mama Selli. Saya didaftarkan mengikuti kelas keterampilan menganyam bambu dan lontar yang diselenggarakan  Tim Siaga Bencana Desa Lamadale melalui kegiatan seed grant pada program adaptasi perubahan iklim berpusat pada anak (4CA). Program ini didanai oleh Kementerian Lingkungan Hidup Jerman (IKI BMUB) melalui kemitraan Plan internasional Indonesia dan perkumpulan relawan CIS  Timor.

Mama Getrudis (Baju merah ) mendapat bimbingan dari instruktur kelas menganyam Ibu Meri Gire (baju ungu) dalam implementasi seedgrant desa Lamadale. © Foto : Rusman

Pelatihan dikemas dalam tiga kelas selama tiga hari yakni kelas keterampilan menganyam, kerajinan dan budidaya bambu serta pertanian pekarangan. Dalam kelas keterampilan menganyam, Saya dan teman-teman dilatih menganyam topi dan piring rotan oleh ibu Meri Gire instruktur Dinas Koperindag Kabupaten Lembata.  Awal latihan memang sulit, namun ibu Meri terus memberi motivasi dan perbaikan sampai saya bisa menganyam topi sendiri. Sekarang, saya sudah bisa menganyam topi dari lontar. Setiap ada waktu luang, setelah pulang dari kebun, saya terus menganyam topi. Beberapa ibu  juga datang belajar menganyam bersama saya di rumah.

Beberapa waktu lalu, saya memamerkan topi saat kunjungan kerja Bupati Lembata ke Desa Lamadale, jumlahnya enam buah dan semua topi terjual dengan harga per topi Rp, 50,000,- keuntungan saya  senilai Rp. 300,000,-

 

Topi lontar, hasil anyaman mama Getrudis Atawolo. ©Foto Ignas

Tidak selesai disitu, saya terus menganyam topi dan menitipkan sebanyak enam buah kepada Mama Selly untuk dijual pada festival tiga gunung dengan harga per topi Rp. 60,000.  Semua topi terjual dengan keuntungan Rp. 360,000.
 
Seedgrant memiliki filosofi sebagai benih yang ditabur tumbuh menjadi bibit, menjadi pohon, berbunga, berbuah dan kembali menjadi benih. Kelas keterampilan menganyam, budidaya & kerajinan bambu serta pertanian pekarangan adalah benih yang ditabur. Usaha mama Getrudis menganyam dan menjual adalah benih yang tumbuh dan perkembangan menghasilkan buah dan benih lanjutan adalah dukungan semua pihak.
 
Mama Getrudis dan usaha menganyam topi adalah satu dari sekian cara meningkatkan kesadaran dan aksi masyarakat desa Lamadale untuk terus menanam dan merawat tanaman agar berfungsi melindungi kampung dari ancaman angin kencang serta tetap mengupayakan ketersediaan sumber daya alam sebagai penopang bagi usaha alternatif warga.***
 
 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *