Maria Susana Pango ; Pengalaman Pertama jadi Fasilitator
Portrait Maria Susana Pango

Maria Susana Pango (Yanti) bekerja sebagai sorang penjahit dan tinggal di kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa kabupaten Nagekeo. Pertama kali mendengar tentang project BLOOM dari kakaknya, Emi yang menjadi relawan desa untuk PLAN.

Awalnya kakak saya yang ditawari untuk menjadi fasilitator desa untuk kelurahan Lape, namun karena beliau berhalangan maka saya yang menggantikan. Saat itu saya tidak begitu tertarik untuk menjadi fasilitator di desa karena saya tidak begitu suka berurusan dengan orang banyak. Namun, kakak saya mewanti-wanti agar saya bisa menjadi seperti bapak yang memiliki jiwa sosial dan mampu berbicara di depan orang banyak. Karena permintaan tersebut, maka saya menerima tawaran tersebut. 

“Dengan menjadi fasilitator desa untuk BLOOM, saya menjadi berani untuk berbicara di depan orang banyak dan mampu menyampaikan pendapat dengan lantang”

Saya mengikuti pelatihan fasilitator desa untuk project BLOOM di hotel sinar kasih, pada akhir oktober 2017. Saya mengikuti pelatihan tersebut bersama rekan saya, Serilus Arkan Asa. Pada pelatihan hari pertama, saya merasa sangat minder karena saya pikir hanya saya yang tidak memiliki pengalaman sebagai fasilitator dalam pertemuan itu. Semua peserta dapat berbicara di depan dengan mudah, kecuali saya.

Sepulang dari kegiatan tersebut, saya melakukan latihan untuk berbicara di depan cermin dan mondar-mandir di rumah sambil berbicara layaknya sedang memfasilitasi kegiatan. Di rumah, kakak dan ibu saya bertanya-tanya mengapa saya mondar-mandir di rumah sambil memegang kertas dan berbicara sendiri. Saya menjawab bahwa saya sedang latihan untuk memfasilitasi kegiatan. Esok paginya, saya meminta kepada rekan saya Arkan agar saya dapat berbicara terlebih dahulu dalam pelatihan agar saya tidak grogi. Setelah selesai dari pelatihan tersebut, saya menjadi termotivasi untuk menjadi fasilitator dan bisa berbicara didepan orang banyak.

Sejak bulan februari 2018, saya memfasilitasi implementasi modul ‘Pilih Masa Depanmu’ bersama rekan saya Arkan dan dikoordinir oleh Perkumpulan Relawan CIS Timor dalam diskusi remaja di kelurahan Lape. Awal memfasilitasi diskusi, saya merasa sangat gugup, jangan sampai ada hal yang salah saya sampaikan dan tidak sesuai dengan modul. Namun seiring waktu memfasilitasi diskusi, saya menjadi terbiasa dan merasakan perubahan dari diri saya. Saya yang dulunya tidak bisa berbicara di depan orang banyak, sekarang menjadi lebih berani untuk berbicara dan menyampaikan pendapat. selain itu saya juga merasa bangga pada diri saya sendiri karena saya sudah mampu keluar dari zona aman saya yang dulunya lebih sering di rumah dan tidak banyak berbicara dengan orang luar.

“Dengan memfasilitasi diskusi remaja, saya juga menjadi belajar bahwa sesungguhnya kita perlu mengenali dan menggali potensi dalam diri kita”

Saya juga mendorong para peserta diskusi untuk dapat lebih berani untuk menyampaikan pendapatnya, minimal di diskusi remaja yang sedang berjalan ini. Memang masih ada yang takut dan malu-malu untuk menyampaikan pendapatnya, namun terus saya dorong mereka untuk berani. Saya yakin, suatu saat nanti mereka juga akan merasakan manfaatnya seperti yang saya rasakan sekarang.

Saya mengalami perubahan yang sangat terasa dalam diri saya adalah saya merasa bahwa berbicara dan menyampaikan pendapat itu penting dan merasa bangga pada diri saya sendiri karena saya sudah mampu berbicara di depan orang banyak.

“Dengan menjadi fasilitator desa untuk BLOOM, saya menjadi berani untuk berbicara di depan orang banyak dan mampu menyampaikan pendapat dengan lantang”. ***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *