Memahami anak lamban belajar dengan pedagogi

 

Pada awalnya saya terlibat dalam kegiatan program karena diundang untuk mengikuti sosialisasi program di level desa dan sekolah di aula SDI Tanaraing. Dalam kegiatan sosialisasi tersebut, dijelaskan maksud dan tujuan program serta desa dan sekolah yang diinterfensi program, dan salah satu sekolah yang termasuk dalam diinterfensi program adalah SDN Tanalingu. Sejak saat itu, kegiatan demi kegiatan program terus  dilakukan oleh CIS Timor, ada yang di tingkat kecamatan, Desa maupun sekolah, dan jika masih berhubungan dengan sekolah dan pendidikan Inklusi maka saya dan beberapa guru serta komite sekolah selalu dilibatkan.

Sejak adanya program pendidikan inklusi ini, kami mulai merasakan beberapa perubahan yang terjadi di sekolah, baik itu perubahan dari diri saya sendiri sebagai kepala sekolah, guru-guru dan juga perubahan yang terjadi pada siswa, misalnya;

  • Perubahan yang terjadi pada diri saya sendiri. Setelah adanya program ini saya selalu mengajak guru-guru untuk berdiskusi agar menemukan solusi bagi anak-anak ABK/lamban belajar, dan selalu mengontrol dan memberikan dorongan serta dukungan bagi guru agar lebih aktif dan kreatif dalam menciptakan metode belajar bagi siswa di Kelas. Dan sejak adanya program ini, saya tidak ragu lagi untuk menerima siswa disabilitas untuk bersekolah di SDN Tanalingu, seperti beberapa waktu lalu, dimana kami menerima siswa berkebutuhan kusus (disabilatas), namun karna kurangnya SDM dan juga kurang paham akan regulasi maka siswa tersebut kami keluarkan lagi karna takut menyalahi aturan.
  • Perubahan yang terjadi pada guru-guru kelas kecil (1,2,3). Setelah adanya program ini, guru-guru tidak lagi mengeluh saat menghadapi anak-anak yang lamban belajar, dan menjadi lebih paham akan kebutuhan belajar siswa yang berkebutuhan khusus.
  • Perubahan yang terjadi pada siswa. Perubahan yang terjadi pada siswa cukup signifikan, terutama bagi siswa-siswa yang lambat belajar. Sejak adanya program ini, dan kepala sekolah serta guru-guru dibekali dengan pengetahun terutama lewat training awareness dan pedagogi, guru-guru menjadi lebih paham kebutuhan belajar siswa dan proses pembelajaran dipersiapkan dengan baik sehingga sangat membantu siswa terutama yang lambat belajar menjadi lebih cepat mengerti apa yang diajarkan (yang awalnya tidak bisa membaca sama sekali sudah dapat membaca dengan baik dan yang tidak bisa berhitung sudah dapat  berhitung, dengan menggunakan metode  yang kreatif dari guru)

 

Bagi saya, perubahan yang paling penting adalah perubahan yang terjadi pada  guru-guru. Sebelum adanya program, guru-guru sangat kesulitan menghadapi siswa berkebutuhan khusus/ yang lambat belajar (tidak bisa diajarkan untuk membaca dan menulis sama sekali) karna kurangnya pemahaman akan kebutuhan belajar ABK dan minimnya metode pembelajaran yang digunakan dalam proses pembelajaran (selalu mengajar dengan metode yang sama yaitu menulis dipapan dan mendikte) sehinngga ABK sangat kesulitan dalam memahami inti dari proses pembelajaran. hal ini menyebabkan ada siswa ABK yang dikasih naik kelas meskipun belum bisa membaca dan menulis karna faktor usia mereka.

Setelah adanya program ini, guru semakin memahami peran dan tanggung jawab mereka sebagai pendidik, dan terus mengembangkan diri, terutama mau belajar untuk memahami kebutuhan dan kempuan belajar setiap anak didik dan menciptakan metode belajar yang sesuai dengan kemampuan masing-masing anak. Sehingga walaupun belum ada evaluasi belajar, namun dari pengamatan setiap hari dikelas, terjadi perubahan hasil belajar yang cukup signifikan pada siswa, terutama ABK/lambat belajar (siswa yang sama sekali tidak mengenal huruf dan tidak bisa membaca sudah mulai mengeja setiap suku kata dan kata kemudian dirangkai menjadi kalimat dengan baik). Dari kegiatan program yang terfokus disekolah dan langsung bersentuhan dengan siswa, juga sangan membantu guru untuk memahami tingkat kemampuan siswa dalam menerima pelajaran, contohnya siswa yang tidak bisa membaca sama sekali, setelah mengikuti kegiatan peer exchange di sekolah, jadi lebih mudah mengeja huruf dan membaca menggunakan huruf-huruf yang diberikan dan dipasangkan dengan gambar yang sesuai dengan kata atau kalimat yang akan dibaca. Begitu juga dengan siswa yang kesulitan dalam berhitung, dengan adanya permainan kelompok dan berhitung menggunakan alat dan permainan yang diberikan, lebih mempermudah siswa dalam belajar berhitung. Dari proses-proses ini, guru-guru lebih banyak mendapatkan metode pembelajaran untuk dikembangkan agar dapat terus dipakai dalam membantu siswa terutama ABK dalam proses belajar.

Dari seluruh rangkaian kegiatan dan proses yang kami ikuti di dalam program ini, saya merasa tertantang untuk terus meningkatkan hasil belajar di SDN Tanalingu, dengan terus memberikan motivasi dan dukungan bagi guru-guru dalam mengembangkan kapasitas dan menjalankan peran mereka sebagai pendidik, dan semua perubahan yang terjadi ini harus dipertahankan. Untuk perubahan yang terjadi pada siswa terutma yang lambat belajar, kami (saya dan guru-guru) sangat berterima kasih kepada orang tua mereka yang mau membantu mengontrol anak untuk belajar dirumah.

Anambida Tenga Lunga S.Pd.SD (Kepala SDN Tanalingu) SDN Tanalingu | Foto : Ady Johanis

“kepala sekolah serta guru-guru dibekali dengan pengetahun terutama lewat training awareness dan pedagogi, guru-guru menjadi lebih paham kebutuhan belajar siswa dan proses pembelajaran dipersiapkan dengan baik sehingga sangat membantu siswa terutama yang lambat belajar menjadi lebih cepat mengerti apa yang diajarkan”

Bagi saya perubahan pada gurulah yang lebih penting karna walaupun guru bukanlah pusat pengetahuan bagi siswa disekolah, tapi guru harus bisa menjadi fasilitator, mediator, konseptor untuk dapat membantu memudahkan siswa belajar dan mengembangkan diri di bangku sekolah, walaupun dukungan dari lingkungan baik itu keluarga dan masyarakat juga sangat berpengaruh,  tapi bagi saya guru harus bisa memainkan perannya sebaik mungkin di sekolah dan di masyarakat.

Hal yang paling menantang dan sulit yang hadapi sejak terlibat dalam program ini, bagi saya semua hal yang kami hadapi dan kami ikuti serta yang kami lakukan dalam program ini sangat menantang dan sulit, karna  sejujurnya semua yang menjadi bagian dari program ini adalah hal yang baru bagi kami, akan tetapi karna ini semua adalah tanggung jawab dan untuk kebaikan kami untuk membantu anak-anak kami agar bisa belajar lebih baik, maka kami akan selalu berusaha untuk bisa melaksanakan setiap apa yang diberikan dalam program. Kalau untuk disekolah sendiri, hal yang bagi kami masih sangat sulit adalah bagaimana mengidentifikasi siswa, dan menyiapkan perangkat pembelajaran yang khusus untuk ABK. Namun untuk mengidentifikasi kemampuan siswa, seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya, dengan adanya kegiatan peer exchange di sekolah, cukup membantu kami untuk mengetahui tingkat kemampuan dan kebutuhan siswa dalam menerima pelajaran, sehingga perlahan guru-guru kami sudah mulai paham bagaimana metode metode mengidentifikasi kemampuan belajar siswa. Untuk persiapan perangkat pembelajaran untuk ABK, kami mengharapkan agar kalau dapat kami di damping sampai selesai, karna sejujurnya kami masih kebingungan dalam mentukan beberapa poin penting yang terdapat didalamnya, seperti indikator capaian bagi ABK dan juga proses penilaian.

——————— ——————— ——————–

Penulis : Katon Eluama

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *