Pelatihan Mewarnai Benang dengan Pewarna Alami

 

Benang yang di beri pewarna alami

 

“…tradisi menenun telah banyak ditinggalkan dimana semakin sedikit generasi muda yang mau mempelajari dan melakukan teknik menenun dari orang tua.”

 

CIS Timor bekerja sama dengan Dewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Kabupaten Belu melakukan kegiatan pelatihan mewarnai benang menggunakan pewarna alam di tiga desa perbatasan yakni Kelompok Tenun desa Nanaenoe, Kecamatan Nanaet Duabesi, Kelompok tenun desa Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur dan Kelompok tenun desa Maumutin, Kecamatan Raihat Kabupaten Belu – Nusa Tenggara Timur.

Pelatihan dilakukan sejak tanggal 6 hinggga 15 Februari 2019. Tujuan dilakukannya kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kreatifitas dan kemandirian kelompok perempuan serta masyarakat di desa perbatasan dan juga sebagai pemicu bagi komunitas di desa perbatasan dalam rangka menumbuhkan dan memajukan ekonomi
kerakyatan.

Pelatihan ini difokuskan kepada Perempuan Kepala Keluargadan Perempuan Penyandang Disabilitas. Kegiatan ini merupakan salah satu Rencana Aksi yang merupakan bagian dari program Suara Pemuda untuk Perbatasan Inklusif kerjasama CIS Timor bersama Voice Indonesia dengan dukungan HIVOS Belanda. Disepakatinya Rencana Aksi ini bersama anggota kelompok tenun karena tradisi menenun telah banyak ditinggalkan dimana semakin sedikit generasi muda yang mau mempelajari dan melakukan teknik menenun dari orang tua. Juga untuk menenun tidak lagi menggunakan benang hasil pewarnaan alam tetapi sudah beralih ke benang hasil pewarnaan kimia atau sintesis. Pada saat ini juga kegiatan menenun dengan tangan telah beralih dengan penenunan peralatan yang lebih modern.

Sebelum dilakukan pewarnaan terlebih dahulu dilakukan perminyakan. Maksud dilakukannya perminyakan benang adalah untuk membersihkan lilin yang menempel pada benang sebelum dilakukan pewarnaan. Adapun proses perminyakan adalah Untuk 1 ball benang sutra dibutuhkan 1 kg kemiri, 2 ruas kunyit, 1 genggam atalik, dan 1 lembar daun pepaya tua. Cara membuat : tumbuk semua bahan jadi satu sampai halus, selanjutnya  tuang air secukupnya  lalu lakukan penyaringan untuk memisahkan ampasnya. Masukan semua benang ke dalam air perminyakan lalu diremas-remas sampai merata. Rendam benang selama 1 malam. Selanjutnya dilakukan perebusan benang sampai air mendidih. Angkat benang dan lakukan penjemuran. Benang siap diwarnai.

Adapun bahan-bahan yang disiapkan untuk pewarnaan adalah daun tarum untuk menghasilkan warna biru, akar mengkudu dan daun loba untuk menghasilkan warna merah mengkudu, pucuk jati muda untuk menghasilkan warna ungu, kayu kuning dan kunyit untuk menghasilkan warna kuning. Daun suji, daun gala gala, daun manga untuk menghasilkan warna hijau, kulit kusambi untuk menghasilkan warna merah muda, dan kulit kamfaek untuk menghasilkan warna coklat muda dan coklat tua.

Menurut Ibu Irene Tefa (instruktur) sebenarnya masih ada banyak bahan pewarna alami yang bisa digunakan untuk pewarnaan disesuaikan dengan kondisi wilayah. Warna merah bisa dihasilkan dari tanaman mengkudu, kulit pohon angsana, kulit pohon jati, buah manggis dan kesumba. Warna hijau dihasilkan dari daun yang sering digunakan oleh penenun untuk menghasilkan warna hijau adalah daun pandan (suji), daun mangga, daun rumput putri malu. Warna kuning dihasilkan dari bahan bahan seperti kunyit, bunga tembelekan, bunga matahari, pohon gendis dan nangka. Semua bunga yang berwarna kuning sebenarnya juga bisa digunakan. Warna hitam didapat dari tumbuhan tarum, jambu mete dan buah pinang. Warna biru didapat dari tanaman bunga telang dan daun nila.

Warna coklat didapatkan dari kulit mengkudu, buah pinang dan mundu. Ditambahkan pula bahwa untuk menghasilkan warna dari bahan-bahan yang ada caranya sangat sederhana yaitu tanaman atau kulit pohon yang akan dijadikan warna ditumbuk halus kemudian diberi air dan disaring untuk diambil sari nya. Setelah didapatkan sari, kemudian benang yang ingin diberi warna kecelupkan kedalam warna selama minimal 24 jam untuk satu sisi benang. Kemudian benang dibalik ke sisi berikutnya dan dilakukan perendaman selama 24 jam. Kadang-kadang proses pewarnaan harus dilakukan secara berulang-ulang agar didapatkan hasil yang diharapkan.

Untuk menjaga keawetan warna benang, biasanya penenun juga mencampurkan kapur sirih pada saat perendaman benang. Konon kapur sirih dapat menjaga warna benang tetap awet meskipun kain nantinya akan dipakai berulang-ulang.

Proses pewarnaan sangat penting dalam membuat kain tenun, karena warna inilah yang nantinya akan membedakan kain tenun suatu daerah dengan daerah lainnya. pewarnaan kain tenun akan memberikan motif dan corak yang membuat kain tenun menjadi unik dan indah. Pada benang lungsi, proses pewarnaan cenderung lebih mudah karena benang lungsi merupakan warna dasar kain. Umumnya benang lungsi hanya diberi satu macam warna saja sedangkan benang pakan, pewarnaan agak sedikit lebih kompleks. Benang pakan adalah penentu motif atau corak suatu kain. Biasanya pewarnaan dilakukan dalam beberapa tahapan sampai benar-benar didapat warna yang diinginkan.

Kegiatan pelatihan ini juga dihadiri oleh ibu Vivi Ketua PKK yang juga menjabat sebagai KetuaDewan Kerajinan Daerah (Dekranasda) Kabupaten Belu, perangkat desa serta Satgas Pengaman Perbatasan. ***(DANCE HAFFO)

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *