Pendidikan yang layak adalah hak setiap anak

 

Saya terlibat dalam program ini dalam kapasitas sebagai kepala sekolah. Bermula dari bulan Oktober 2019 sejak CIS Timor yang bermitra dengan INOVASI mengunjungi sekolah kami, SDN Kamalawatar untuk memperkenalkan program pendidikan inklusi dan mengatakan bahwa sekolah kami adalah salah satu yang terpilih menjadi sasaran program. Kami diajak bermitra. Setelah itu saya mengikuti sosialisasi tentang program ini, dan kemudian juga terlibat ketika peluncuran program dilakukan di tingkat kabupaten.

Waktu berlalu, banyak kegiatan mulai dilakukan. Banyak diskusi dibangun bersama CIS Timor. Saya mengikuti pelatihan (training) awareness di mana kami dikenalkan dengan pengertian-pengertian baru tentang apa sebenarnya pendidikan inklusi itu. Pendidikan untuk semua. Pada pelatihan pedagogi, saya mengutus guru kelas 1,2 dan 3 untuk mengikuti kegiatan tersebut. Kini kegiatan yang setiap bulan berlangsung di sekolah adalah peer exchange bagi siswa. Kegiatan yang baru dan terlihat menyenangkan bagi siswa, juga membantu guru memperoleh penyegaran tentang teknik mengajar yang baru.

Dalam isu ini juga merubah pola pikir, pemahaman terkait pendidikan. Selama ini hampir tidak pernah kami dengar tentang pendidikan inklusi. Selama ini, saya dan para guru memang memandang pendidikan sebagai hak anak. Namun tidak ada pikiran bahwa anak-anak disabilitas atau yang sering kami sebut sebagai anak cacat boleh bersekolah di sekolah umum. Di sekolah kami memang tidak ada anak yang mengalami cacat fisik, namun ada yang mengalami hambatan dalam belajar. Kini kami tahu bahwa sekolah umum memang terbuka bagi semua anak dengan kondisi apapun. Saya melihat terjadi tukar pikiran dan informasi di antara para guru tentang berbagai pengetahuan yang diperoleh. Perubahan metode mengajar guru. Setelah beberapa kali mengikuti pelatihan, guru diperkaya dengan teknik mengajar yang beragam. Pula ada penyesuaian perangkat pembelajaran. Di mana perangkat mengajar guru yakni RPP harus mengakomodir kebutuhan setiap anak yang beragam. Dan ada rencana pembelajaran khusus bagi ABK yang disebut Rencana Pembelajaran Individu (RPI). 

Ibu Kudji Koreh, S.Pd. Kepala Sekolah SD Negeri Kamalawatar. Foto : Ady Johanis

Dari dua perubahan di atas, lahirlah perubahan di kelas. Di kelas 1, di mana hampir 1 semester beberapa siswa masih sulit mengenal huruf, guru mulai mengajar dengan metode bermain dengan kartu huruf. Siswa yang kesulitan belajar diberikan bimbingan khusus. Secara perlahan, kini mereka telah mengenal huruf dan bahkan mulai dapat membaca dan menulis beberapa kata dengan benar. Di kelas 1 juga ada salah seorang siswa yang hiperaktif dan suka mengganggu teman-temannya. Kepadanya guru memberikan tugas tambahan sehingga ia tak punya waktu senggang untuk mengganggu ketertiban kelas. Demikian pula di kelas 2 dan 3. Anak-anak hampir semuanya telah bisa membaca dan berhitung, meski ada beberapa yang sedikit kesulitan dan diberi bimbingan khusus.

“Selama ini, saya dan para guru memang memandang pendidikan sebagai hak anak. Namun tidak ada pikiran bahwa anak-anak disabilitas atau yang sering kami sebut sebagai anak cacat boleh bersekolah di sekolah umum….dan kini kami tahu bahwa sekolah umum memang terbuka bagi semua anak dengan kondisi apapun”

Dari perubahan atas saya melihat perubahan terpenting adalah di mana siswa yang kesulitan membaca kini sudah mulai dapat membaca.  Awalnya siswa kesulitan mengenal huruf, apalagi membaca dan berhitung. Pula ada siswa yang sangat nakal dan hiperaktif. Hal ini menyulitkan guru dalam proses belajar mengajar setiap hari.

Foto : Ady Johanis

Dengan adanya program ini, guru mempunyai pengetahuan baru tentang cara mendesain kelas dengan siswa yang beragam, dan bagaimana kiat membantu siswa yang kesulitan belajar. Di training pedagogi, guru mempelajari banyak metode sebagai alternatif yang bisa dipakai sesuai kebutuhan kelas. Dengan kekayaan metode itu, guru lebih fleksibel dalam mengajar dan suasana kelas tidak monoton.

Sebagai kepala sekolah, saya menyarankan para guru untuk menciptakan suasana kelas yang ramah anak. Guru tidak boleh berwajah angker terhadap siswa. Hal ini membuat siswa belajar dengan bahagia, dan pelajaran lebih mudah dimengerti.

Dengan alasan Siswa dapat membaca dianggap yang terpenting karena hal itu adalah bukti nyata dari perubahan pola pikir dan cara mengajar guru. Dari pembelajaran yang monoton menjadi pembelajaran yang menyenangkan. Pola pikir yang salah ternyata membuat guru mengajar dengan cara yang keliru. Dan sebaliknya, pola pikir yang inklusi justru membantu siswa belajar dengan lebih baik dan menyenangkan.

Sejauh ini, hal yang dirasakan cukup sulit adalah membiasakan guru untuk menulis rencana pembelajaran individu dan memodifikasi RPP bagi ABK. Hal ini karena guru belum terbiasa melakukannya sehingga butuh waktu untuk membiasakan diri.

 

————  ————  ————

Penulis : Yustini Erlin Mali

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *