Perempuan Tangguh yang merubah Kecemasan menjadi Harapan

 

“Orang bisa tahu kita mempunyai kemampuan, maka mereka percayakan hal itu kepada kita, oleh karena itu, lakukan itu dengan gembira”
(Yuliana ; Fasdes Kolontobo)

Perempuan yang selalu tersenyum itu ternyata adalah Yuliana Jemian A.MdKep. Penampilanya sederhana tapi menampakan keanggunan dan daya tarik bagi siapa saja sehingga orang baru sekali pun sangat mudah menjadi akrab dengan sosok ibu dua putri ini. Lahir di Manggarai pada tanggal 11 Maret 1981, terpikat cinta dengan pemuda Kolontobo dan akhirnya menikah dengan Marius Dawa dan dikaruniai 2 putri masing – masing Maria Mutiara Virginia Dawa dan Khristina Vania Tuto.

Keluarga ini hidup sederhana tapi bahagia dengan menjadi sosok inspirasi, telaten dan baik di lingkungan kerja, Dalam kehidupan Rohani di Gereja maupun dalam pergaulan sosial kemasyarakatan. Mengemban Tugas pokok sebagai ASN, iburumah tangga, relawan untuk ODHA ( Orang Dengan HIV Aids) dan sejumlah kesibukan lainnya; toh tetap mampu menyisihkan waktu untuk belajar bersama anak remaja sebagai Fasilitator Desa untuk BLOOM PROJECT di Desa Kolontobo.

Desa Kolontobo adalah salah satu desa dari sepuluh desa di Kabupaten Lembata yang di intervensi dengan BLOOM PROJECT. Perjalanan Bloom Project di desain di bilang unik dan sangat menantang. Sempat vakum dan tidak beraktivitas cukup lama hingga berujung pada beberapa kali pergantian Fasdes sampai akhirnya menjumpai perempuan tangguh yang biasa disapa Yuli. Ditangan Yuli inilah kecemasan dan kekuatiran akan gagalnya BLOOM PROJECT di Desa kolontobo berubah menjadi harapan dan optimisme.

Ketika ditanya apa motivasi utama yang mendorong ibu Yuli untuk mau menjalani kesibukan baru ini?. Dengan suara yang agak merendah ia membisikan kegundahan hatinya bahwa Ia. “Prihatin dengan kehidupan anak dan remaja Kolontobo”. Ketika ditanya lebih jauh apa masalah yang sedang terjadi pada anak dan remaja Kolontobo sehingga membuat ibu prihatin?.

Dengan suara yang masih sangat pelan ia menyampaikan bahwa; masalah utama di desa ini yang mengancam kehidupan anak dan remaja adalah; Perkawinan anak, putus sekolah, pergaulan bebas (merokok, mabuk-mabukan, mete/begadang dan pesta) dan masih banyak lagi. Banyaknya masalah yang mengintai kehidupan anak dan remaja ini memantik semangatnya dan menguatkan mimpinya untuk melakukan sesuatu.

Ia inginkan sesuatu terjadi pada diri anak dan remaja Kolontobo. Paling tidak setelah mengikuti kegiatan BLOOM dengan mendalami setiap sesi dalam modul ini anak dan remaja kolontobo bisa “Mengenal diri, menggali potensi dirinya dan membangun mimpi dalam dirinya untuk hidup lebih baik dikemudian hari”.

Sebuah pertanyaan sederhana bernada mencoba dilontarkan pada ibu Yuli bahwa apa yang ia cari dari keterlibatan dirinya sebagai fasdes padahal ia tau ia tidak mendapatkan apa–apa. Dengan tegas dan penuh kepercayaan diri ia menjawab “UANG bukan segala-galanya”. 

Kalau punya kesempatan dan bisa melakukan sesuatu untuk anak dan bermanfaat bagi mereka adalah nilai yang paling utama”. Tidak sampai disitu saja; ia pun menimpali lagi dengan pernyataan “Orang bisa tahu kita mempunyai kemampuan, maka mereka percayakan hal itu kepada kita, oleh karena itu, lakukan itu dengan gembira”. 

Jawaban-jawabn mama Yuli ini seolah menegaskan bahwa inilah sejatinya kehadiran dan keberadan kita didalam kehidupan ini. Mama Yuli satu dari sedikit orang yang mau melakukan ini karena kecintaannya yang besar pada kehidupan terutama pada anak dan remaja. Mama yuli sosok inspirasi yang meneguhkan dan meneduhkan. Bahwa hidup pasti punya masalah tapi setiap masalah pasti ada jalan keluarnya dan mama Yuli berhasil menemukan jalan keluar bagi anak dan remaja BLOOM desa Kolontobo.

Semenjak direkrut menjadi Fasdes desa Kolontobo mama Yuli begitu bersemangat untuk menjalankan aktifitas barunya ini. Mencari dan merangkul anak anak yang sudah tidak lagi bersemangat mengikuti kegiatan, mengusahakan modul (pinjam dari teman) karena ia sendiri tidak punya modul dan modul pada fasdes lama belum dikembalikan / tidak diberikan, membangun komunikasi dengan pemerintah desa dan KPP hingga semua itu berbuah manis.

Diskusi remaja yang tertunda lama akhirnya bergulir kembali. KPP dan Pemerintah desa sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan dan orang tua sangat member kesempatan bagi anak untuk mengikuti diskusi remaja, bahkan anak-anak meminta diskusi remaja dilaksanakan setiap hari dari jadwal yang seminggu 2 kali.

Menyikapi semangat anak-anak yang luar biasa mama Yuli bahkan menjadikan rumahnya untuk kegiatan diskusi remaja sambil ia menunaikan tugasnya sebagai Perawat Desa jika ada pasien yang hendak control atau berobat. Kini Kolontobo yang dulunya tertingal jauh dari desa-desa lainnya telah menjelma dan maju sejajar dengan desa lainnya. Bahkan dengan pasti dan berani Mama Yuli bersama anak-anaknya menegaskan untuk siap mengikuti wisuda serentak pada bulan Maret ini. Sebuah kemajuan dan progress yang sangat luar biasa.

Ternyata Jawaban dan komitmen mama Yuli sesungguhnya menggambarkan MOTTO dan prinsip hidupnya yakni….“Be yourself”

Mama Yuli merupakan perempuan Tangguh yang merubah kecemasan menjadi Harapan. Teruslah berkarya mama Yuli, Wujudkan mimpi untuk membawa perubahan bagi anak dan remaja Kolontobo.

*** Mikhael Aleksander Raring

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *