Sekarang tidak ada lagi emas di ujung rotan

Penulis : Yustini Erlin Mali

Saya mulai terlibat dalam program ini, pertama kali ketika mengikuti sosialisasi yang dilakukan di SDI Tanaraing. Di situ saya ketahui bahwa SDI Tapil akan menjadi sekolah sasaran implementasi program pendidikan inklusi. Saya adalah guru kelas 4. Seharusnya yang mengikuti kegiatan ini adalah guru kelas 1-3, namun karena guru kelas 1 berhalangan karena baru saja bersalin, maka saya diutus kepala sekolah untuk menggantikannya. Sejak saat itu saya selalu mengikuti kegiatan yang berkaitan dengan program ini. Tim CIS Timor juga sering datang ke sekolah untuk menyampaikan undangan kegiatan dan berdiskusi.

Foto : Ady Johanis

Semenjak saya mengikuti rangkaian aktivitas bersama Cis Pengetahuan saya mulai berubah, Pendidikan inklusi adalah hal yang baru bagi saya. Jarang sekali saya mendengar isu ini, apalagi mempraktekkannya. Meski berawal dari ketidaktahuan, lama kelamaan saya mulai memahami bahwa ada cara baru untuk memahami pendidikan dan secara perlahan, sikap saya berubah. Sejak dulu, karena belajar dari pengalaman di mana guru kami dulu mengajar dengan keras, maka selama ini saya juga mengajar dengan pola yang sama. Prinsip yang saya pakai selama ini adalah “di ujung rotan ada emas”.

“Perubahan terpenting yang saya rasakan adalah perubahan pemahaman saya”

Saya sering sekali marah dan memukul anak-anak yang nakal dan saya anggap bodoh. Saya sering tidak sabar menghadapi para siswa. Setelah mengikuti pelatihan saya sadar, ada yang keliru dalam cara saya mengajar selama ini. Setelah mengikuti training pedagogi, saya menyesuaikan cara mengajar dengan kebutuhan siswa. Saya mencoba untuk membuat RPI, meski cukup kesulitan. Dengan RPI dan pengisian beberapa format asesmen gaya belajar, saya lebih mengenal kebutuhan tiap siswa. Lagipula siswa kelas 4 hanya 7 orang. Yang belum dapat membaca dengan lancar dan “sangat nakal” seperti Umbu Daeng Stampi, saya beri tugas tambahan untuk membaca di rumah. Meski dia masih kesulitan pada kata-kata dengan akhiran “ng, nya”, namun dia mengalami kemajuan. Dia butuh waktu lama juga dalam berhitung, namun hasil hitungannya benar. Saya senang karena hal ini.

Muhammad, S.Pd. Guru di SD Inpres Tapil. Foto : Ady Johanis

Perubahan terpenting yang saya rasakan adalah perubahan pemahaman saya. Dulu saya suka sekali marah dan memukul siswa, sampai kadang saya menyesal dan merasa berdosa dan takut dimarahi orangtua siswa. Tapi kini saya sadar bahwa saya tidak harus marah bila anak-anak kesulitan belajar. Saya lah yang perlu sedikit menyesuaikan gaya mengajar dengan mereka, dengan begitu saya tidak lagi dihantui perasaan bersalah dan emosi yang tidak terkontrol. Hal ini memudahkan saya untuk mengajar, dan juga membuat siswa tidak takut pada saya. Dulu saya berpikir bahwa rasa takut pada guru akan membuat siswa lebih giat belajar. Ternyata tidak begitu. Anak-anak justru lebih senang belajar bila guru lebih ramah. Saya lihat anak-anak cukup heran karena sekarang saya tidak memukul mereka. Sebagai gantinya, mereka juga lebih taat, walaupun perubahannya belum banyak. Kalaupun saya marah, di akhir pembelajaran saya akan minta maaf dan merangkul mereka kembali.

Sampai sejauh ini, hal yang saya rasa cukup sulit adalah mengajak orangtua siswa untuk membantu anak belajar di rumah. Kebanyakan orangtua siswa ABK berpendidikan rendah, juga kekurangan bahan bacaan di rumah. Hal ini membuat sekolah menjadi satu-satunya tempat siswa belajar. Kami berusaha menyampaikan hal ini pada orangtua, namun belum ada hasil yang baik.

————   ————  ————

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *