YOUTH VOICE MEMBENTUK COMMUNITY ORGANIZER

 – BORDERS FOR INCLUSIVE –

 

Tujuan program adalah memperkuat kemampuan dan pengaruh anak muda termasuk perempuan serta orang dengan disabilitas di desa Nanaenoe, Maumutin, dan Silawan, dengan tekad memperbaiki akses dan kwalitas layanan kesehatan, pendidikan dan ekonomi. Oleh karena itu langkah utama yang harus ditempuh oleh tim kerja pada bulan september adalah mengidentifikasi kelompok pemuda di tiga desa, dan dilanjutkan dengan profiling anggota potensial bakal menjadi Community Organizer.

Hasil profiling mercatat 75 orang calon Community Organizer atau masing-masing desa memiliki 25 orang Community Organizer yang akan bersama – sama dalam program selama 3 tahun kedepan.

Ada beberapa hal yang menjadi persyaratan atau kriteria yang ditawarkan dalam menentukan pemuda yang bakal terpilih menjadi Community Organizer adalah berdomisili tetap di desa, bisa menulis dan membaca, usia minimal 18 tahun sampai dengan 30 tahun, terbuka dalam perbedaan, memiliki kemampuan kerja sama dalam tim serta berkomitmen untuk membangun perubahan dalam komunitas demi desa yang maju dan sejahtera.


Tabel data calon Community Organizer Hasil Profiling
Pendidikan:

Dari 75 orang Community Organizer yang direkrut terdapat 30 orang yang berijasah SMA, sedangkan sisanya 3 orang berijasah sarjana, dan 32 orang merupakan putus sekolah  pada jenjang Sekolah Menengah Pertama. Namun demikian mereka rata –rata memiliki kemauan dan kesediaan untuk mengikuti organisasi.

Organisasi dan Pengalaman Calon Community Organizer:

Kenyataan menunjukkan bahwa tidak banyak pemuda yang berorganisasi di desa Nanaenoe, Maumutin dan Silawan, namun demikian ada beberapa kelompok organisasi kepemudaan yang dibentuk oleh pemerintah seperti kelompok pertanian, peternakan dan juga kelompok yang dibentuk oleh lembaga keagamaan seperti Orang Muda Katolik, dan Pemuda Kristen.

Dari 75 orang calon Community Organizer hanya 20 orang saja yang pernah terlibat dalam organisasi dan sisanya 55 orang belum pernah mengikuti organisasi.

 

Pelatihan yang pernah diikuti:

Dari 75 orang calon Community Organizer hanya ada 22 orang yang pernah mengikuti pelatihan. Sisanya 53 orang belum pernah mengikuti pelatihan apapun. Adapun jenis pelatihan yang pernah diikuti seperti pelatihan penggemukan ternak, pelatihan pertanian dan pelatihan terhadap kader POSYANDU,

 

Difabel:

Kelompok difabel merupakan salah satu target dan sasaran dari program, namun dari hasil profiling hanya terdapat 3 orang difabel dengan rincian 1 orang berada di desa Nanaenoe dan 2 orang lainnya berada di desa Maumutin. ***WN

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *