“GURU tidak hanya mentrasfer pengetahuan namun juga mentrasfer kehidupan dengan membuat anak menjadi mandiri”

Sebagai Guru Mata pelajaran agama di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Belo, Pak Yunus Nobrihas, mengakui pada awalnya sama sekali tidak memiliki pengalaman mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Pada tahun 2014 beliau berkesempatan mengenal Pendidikan Inklusif, saat mengikuti Pelatihan mengenai Tuna Daksa. Pada pertengahan tahun 2017 beliau diberikan kepercayan oleh Pimpinan SDI Bello untuk mengikuti Pelatihan Pedagogi yang diselenggarakan oleh Handicap International (HI).

Ketika mendengar informasi bahwa HI akan melakukan Pelatihan lanjutan mengenai Pedagogy, Pak Yunus merasa sangat tertarik. Hal ini dilandasi oleh kesadaran akan pengetahuannya tentang pendidikan inklusif yang masih dirasa minim. Menurutnya, masih banyak hal yang belum dipahami dengan baik dari pelatihan sebelumnya.

“Saya merasa pelatihan kedua menolong saya. Saya sangat tertarik dengan PPI (Program Pembelajaran Individu), dan pelatihan terakhir memberikan pemahaman yang cukup jelas sehingga membantu saya mengimplementasikannya di sekolah dimana saya mengajar. Saya termotivasi untuk lebih membekali diri dalam mengajar dan mendampingi anak-anak dengan disabilitas dan Kepala Sekolah memberikan kesempatan agar saya ikut serta dalam pelatihan yang diselengarakan oleh Handicap International.”, ujar Pak Yunus.

Pak Yunus, memiliki panggilan sebagai guru, hal ini juga merupakan reflksi kehidupan spiritualnya bahwa keberadaannya sebagi guru, tidak hanya memberikan transfer pengetahuan tapi juga sebuah peluang untuk berbagi dengan sesamanya,

“Saya tidak hanya mentransfer pengetahuan namun juga mentrasfer kehidupan bagi anak-anak berkebutuhan khusus (ABK). Menjadi guru lebih dari sekedar menjalankan tugas tapi panggilan hati untuk memperhatikan anak-anak dengan disabilitas,” ungkapnya.

Berbagi dengan mereka, mengangkat mereka, dan membuat anak-anak dengan disabilitas menjadi mandiri, menjadi motivasi Pak Yunus untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan pendidikan inklusif.

Pak Yunus berharap bahwa Pelatihan Pedagogi yang diikuti dapat meningkatkan pemahaman tentang bagaimana mendidik dan mendampingi anak-anak dengan disabilitas. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat memicu dan mendorong guru-guru agar bisa memberikan perhatian bagi anak-anak dengan disabilitas, mengingat Sekolah Dasar Inpres (SDI) Bello juga merupakan salah satu sekolah penyelengara pendidikan Inklusif, di wilayah Kota Kupang.

Salah satu perubahan yang dirasakan oleh Pak Yunus ketika terlibat dalam kegiatan pendidikan inklusif adalah semakin tajam keterpanggilannya dalam melayani dan mendampingi anak-anak dengan disabilitas. Menurutnya, dulu sebelum mengikuti pelatihan, anak-anak disabilitas dipisahkan dari anakanak non-disabilitas, dengan cara memberikan ruangan khusus bagi mereka untuk belajar. Saat ini 17 dari 21 anak sudah digabungkan dengan anak-anak di kelas reguler mulai dari jenjang kelas 1 sampai jenjang kelas 6.

Dalam sebuah sesi wawancara antara penulis dan Pak Yunus, saat dijumpai dalam kelas mata pelajaran agama, penulis menemukan dua siswa berkebutuhan khusus, Esther dan Dunglang, yang memiliki hambatan dalam kecepatan belajar. Mereka berada bersama-sama siswa reguler lainnya di kelas yang sama. Pak Yunus dan rekannya yang telah mengikuti pelatihan pendidikan inklusif memberikan waktu, untuk mendampingi anak-anak yang memiliki kondisi khusus pada jam tertentu agar dapat diberikan pelajaran tambahan.

Empat orang anak dengan disabilitas masih berada dalam proses pendampingan dikelas khusus berdasarkan kesepakatan antara sekolah dan orang tua. Namun mereka tetap dipersiapkan untuk masuk dalam kelas reguler dengan anak-anak non-disabilitas, sesuai jenjang pendidikan tiap anak. Tiga diantara keempat siswa yang memiliki kebutuhan khusus tadi, termasuk dalam kategori down syndrome. Mereka mulai dilibatkan dalam kegiatan olaraga dan kesenian, agar secara perlahan-lahan mulai dilakukan proses adaptasi dan pembauran dengan teman-temannya yang non-disabilitas, sehingga akan membantu anak-anak dengan disabilitas untuk siap ketika digabungkan
dengan anak-anak non-disabilitas.

Perubahan tidak hanya terjadi dikelas mata pelajaran agama, namun juga dikelas mata pelajaran lainnya. Pak Yunus merasa guru-guru di SDI Bello, juga mulai menerima keberadaan anak-anak dengan disabilitas dan membantu proses penerimanan dan adapatasi dari anak dengan disabilitas dengan anak non-disabilitas. Pak Yunus menyampaikan bahwa saat mengikuti pelatihan pedagogi beliau merasa dimotivasi kembali untuk memberikan pendampingan kepada anak-anak dengan disabilitas.

Pasca pelatihan Pak Yunus dan rekannya mulai melakukan pendataan kembali anak-anak dengan disabilitas dan mulai melakukan pedekatan ke orangtua dari anak disabilitas, yang masih engan untuk menempatkan anaknya bergabung dengan anak non-disabilitas. Langkah berikut yang dilakukan adalah menolong proses pembuatan Rencana Program Pembelajaran (RPP) yang dimodifiasi, sampai saat ini masih dalam proses, serta membantu pembuatan PPI (Program pembelajaran individual / Rencana Pembelajaran individual) bagi rekan-rekan gurunya yang memiliki anak dengan disabilitas.

Salah satu bentuk pendampingan yang dilakukan oleh Pak Yunus adalah dengan menolong Susan Taopan (salah satu siswa dengan disabilitas daksa ringan, red) dalam proses pengenalan abjad termasuk kemampuan menulis dengan melatih motorik halusnya mengunakan media yang ada disekitar Susan. Pada awalnya Susan hanya mampu menulis dikertas sebanyak 3 huruf saja dan bila dipaksakan dapat merubah suasana hatinya, dalam durasi waktu yang lama. Sebagai solusi, pak Yunus menawarkan agar orang tua mendampingi Susan dalam melatih keampuan motorik halus dengan mengunakan media pasir.

Saat ini Susan mulai menunjukan perkembangan yang pesat, dia dapat menggenggam alat tulis dengan baik, menulis di kertas dengan durasi waktu yang lebih panjang, dan sudah mengenal semua huruf. Pak Yunus selalu memberikan waktu untuk melakukan kunjungan reguler dalam rangka memonitor perkembangan dari anak-anak dengan disabilitas. Untuk membantu proses penerimaan dari anak-anak non-disabilitas terhadap anak-anak dengan disabilitas salah satunya saat mata pelajaran agama Pak Yunus mengunakan media video untuk menunjukan betapa berharganya anak-anak dengan disabilitas di hadapan Tuhan. Sama seperti Tuhan mengasihi mereka, anak-anak non-disabilitas dimotivasi untuk melakukan hal yang sama.

Walaupun demikian, sampai saat ini masih ada orang tua yang enggan mengabungkan anaknya bersama dengan anak non-disabilitas, karena ada ketakutan bahawa anak mereka tidak memperoleh pengawasan yang maksimal dari guru. Sebaliknya, bila berada di kelas khusus anak mereka akan mendapat pegawasan dan perhatian dari guru. Pak Yunus, tidak pernah bosan mengingatkan bahwa suatu waktu anak tersebut harus bergabung dengan teman-temannya yang non-disabilitas.

Standar yang disepakati saat ini di Sekolah Dasar Inpres Belo untuk anak dengan disabilitas dapat bergabung dengan anak nondisabilitas di kelas yang sama minimal memiliki kompetensi dasar menulis dan membaca. Mengingat perbandingan guru dengan jumlah siswa perkelas adalah kurang lebih 1:32; disisi lain, belum ada guru khusus yang mendampingi anak dengan disabilitas selama proses belajar mengajar, sehingga ketakutan yang muncul adalah guru tidak mampu melayani semua anak pada waktu bersamaan. Inilah alasan mengapa masih terdapat empat orang anak dari duapuluh satu anak dengan disabilitas yang belum dapat bergabung dengan anak non-disabilitas. Melalui kelas khusus diharapkan dapat menolong anakanak agar minimal dapat membaca dan menulis.

Karena itu, Pak Yunus berharap semua pihak turut memberikan perhatian karena anak-anak dengan disabilitas juga memiliki hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang sama dengan anak-anak non-disabilitas.

“Bila didorong anak-anak dengan disabilitas bisa berkembang dan berhasil di bidang yang mereka tekuni,”, ujarnya.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *