Kisah Srikandi Pendidikan Inklusif dari Timor: SDI Lili

 

“SEBELUMNYA saya memang belum pernah ikut training sama sekali. Pemahaman saya itu, karena bagi setiap orang atau setiap anak itu punya hak yang sama untuk menempuh pendidikan, apapun kondisi dia, keadaan dia. Pihak sekolah itu bertanggungjawab disitu apapun risikonya.”

Ketika memasuki kawasan sekolah ini, mata kita akan langsung disejukkan dengan banyak sekali tanaman hijau di depan setiap kelas. Apalagi kalau kita bergeser masuk semakin ke dalam, tidak hanya tanaman sayur dan dan tanaman obat keluarga yang subur, tetapi juga ada beberapa lopo dan kolam ikan di tengah hijaunya tanaman mereka. Semua ini adalah hasil kerja gotong royong antara para guru dan siswa. Perjalanan ke Sekolah yang paling timur untuk dampingan pendidikan inklusif di Kabupaten Kupang ini, jika dengan kendaraan bermotor dapat mencapai 1 jam perjalanan. Sedangkan jika kita menggunakan transportasi publik, di butuhkan sekitar 2,5 jam perjalanan.

Sekolah Dasar Inpres (SDI) Lili merupakan salah satu sekolah dasar penyelenggara pendidikan inklusif angkatan pertama di Nusa Tenggara Timur. Sejak tahun 2004 sekolah ini menerapkan penyelenggaraan pendidikan Terpadu menuju pendidikan Inklusif, hingga menjadi sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.

“Eh, kalau sekolah kami, mulai berhubungan dengan Pendidikan Inklusif itu dari kepala sekolah kami yang lama. Itu langsung dengan Provinsi dan tetap dilanjutkan terus sampai sekarang. Dari Ibu Jacoba Radja, terus bapak Trianus Benu dan sekarang saya.”, jelas Ibu Juliana Haba, Kepala Sekolah Dasar Inpres Lili saat diwawancarai oleh tim pendidikan inklusif.

“Kaka, kaka sonde tau ko? Bapa (Trainus Benu, red) sudah meninggal. Sejak bulan Oktober 2016. Kena tabrak. Mama yang gantikan bapa sementara.”

(“Apakah kakak belum tahu? Bapak Trianus Benu (Kepala Sekolah) sudah meninggal sejak bulan Oktober 2016, karena kecelakaan. Jadi mama (partisipan) yang menggantikan beliau untuk sementara”), ujar ibu Juliana dengan mata berkaca-kaca di awal kami mengunjungi sekolah di awal tahun 2017.

Kepergian sosok kepala sekolah ini cukup menjadi pukulan keras bagi para guru di sekolah ini. Namun, konsistensi untuk menyelenggarakan pendidikan inklusif yang dilaksanakan oleh setiap pemimpin sekolah sejak mereka ditetapkan sebagai sekolah penyelenggara pendidikan inklusif, telah tertanam dan bertumbuh menjadi panggilan hati nurani mereka.

Hal ini karena mereka telah menyaksikan banyak cerita, baik yang gagal maupun yang berhasil dalam penyelenggaraan pendidikan bagi semua anak ini. Hal ini juga yang terjadi pada Ibu Juliana, yang merupakan guru pelajaran agama kristen ketika ia masih di tunjuk untuk menjadi Pemegang Jabatan Sementara Kepala Sekolah SDI Lili, diawal kepergian dari Kepala Sekolah sebelumnya (Bapak Trianus, red) yang meninggal dunia karena kecelakaan.

Semangat yang sama masih terpancar setelah project pendidikan inklusif berjalan 8 bulan, dan beliau telah resmi menjadi kepala sekolah selama beberapa bulan. Walaupun ia belum pernah mengikuti pelatihan terkait dengan Pendidikan inklusif sebelumnya, namun ia terus melanjutkan komitmen dari pemimpinpemimpin sebelumnya.

Komitmen dari perempuan ini terus ia tularkan kepada rekan-rekan kerjanya, untuk terus memberikan penyelenggaraan pendidikan yang terbaik yang dapat mereka berikan untuk anak-anak didik mereka. Karena itu, sekalipun telah lama menyelenggarakan pendidikan inklusif, mereka tetap sangat responsif saat diajak untuk terlibat dalam pelatihan Pendidikan inklusif bagi guru baik untuk tingkat pengenalan maupun tingkat pedagogi.

Ibu Juliana mengungkapkan bahwa memang tidak serta merta mereka langsung mengalami perubahan signifian, namun beliau tidak menyerah untuk memberikan motivasi bagi guru-gurunya, dan juga selalu mencari inovasiinovasi baru dalam memanajemen sekolah ini agar penyelenggaraan pendidikan di sekolah ini menjadi semakin baik.

“Semuanya butuh proses keterampilan. Tidak gampang membalik telapak tangan. Jadi semua butuh proses dengan saya selalu mengingatkan teman-teman bahwa tidak boleh bosan-bosan. Harus setiap hari itu tetap mendampingi mereka.”

“Misalnya, ketika dia (siswa, red) naik kelas. Karena di tiap kelas itu ada catatan, misalnya dari guru kelas 1 ke kelas 2, itu ada saling informasi tentang anak berkebutuhan khusus. Dan ketika dia terima (guru kelas 2) itulah menjadi tanggungjawab teman di kelas itu.”,

ujar perempuan bersuara lembut ini ketika menceritakan beberapa perubahan pada guru-gurunya setelah berkegiatan bersama dengan Konsorsium Pendidikan Inklusif sejak tahun 2014 hingga saat ini.

Sekolah yang tenaga pendidiknya mayoritas perempuan ini, terus bahu-membahu untuk menyelenggarakan pendidikan yang berkualitas bagi semua anak. Tata kelas yang disesuaikan dengan kesepakatan bersama dengan anak, adaptasi-adaptasi dalam perencanaan pembelajaran bagi siswanya, hingga peningkatan kapasitas guru untuk dapat berinteraksi dengan anak berkebutuhan khusus.

Contohnya Yustina Boymau, salah satu guru dari SDI Lili yang juga merupakan salah satu guru yang mengikuti pelatihan pedagogik di tahun 2017. Pada salah satu sesi saat pelatihan juga bercerita tentang bagaimana dengan kesetiaan dan kesabaran mendampingi seorang anak yang awalnya tidak pernah berbicara dan memiliki gangguan bicara dan komunikasi pada akhirnya mampu bicara walaupun terbata-bata.

Itu semua dengan kesabaran dan kesetiaan juga doa kaka. Harus komitmen dan rela berkorban,ujarnya.

Karena orangtua dari anak itu adalah pegawai dari Dinas Sosial Kabupaten Kupang, maka Ibu Yustina pun ditawari untuk menjadi pengajar di Sekolah Luar Biasa RunguWicara Naibonat. Di lain kesempatan, kami mendapatkan informasi bahwa SDI Lili juga merupakan salah satu pemrakarsa berdirinya SLB ini.

SDI Lili juga menggunakan berbagai kesempatan untuk membangun kesadaran dari orang tua, bahwa memiliki anak yang merupakan anak yang berkebutuhan khusus, bukanlah akhir dari segalanya. Salah satu yang mereka lakukan adalah dengan mengundang orang-orang yang dianggap dapat menjadi inspirasi bagi para orang tua untuk tidak segera menyerah dengan anak mereka yang berkebutuhan khusus. Proses ini yang kemudian mereka jadikan strategi untuk meningkatkan peran orang tua dalam pendidikan anak.

Walaupun kemudian menurut beliau proses ini tidak mudah karena banyak orang tua yang tidak mau menerima kondisi anaknya.

“Eh, kadang orang tua tidak paham dengan keadaan anak. Kadang ada orang tua yang keras. Ada yang dibiarkan saja begitu sehingga kita juga awalnya bertanya-tanya, bagimana caranya supaya orang tua memahami, menerima, dan bersyukur dengan apapun keadan anak tersebut. Karena itu baru-baru ini saya undang nona Sischa (Staf project Pendidikan Inklusif, red) Sama Dina (Salah satu anggota Persani yang saat ini sedang berkuliah) supaya memberikan inspirasi buat orang tua atau memberikan pemahaman untuk mereka. Karena kadang kalau tidak melihat, orang tua tidak percaya kalau kita hanya omong-omong saja.”, jelas penggemar lagu Rohani ini menggebu-gebu.

Selain itu, pihak sekolah juga sudah memulai program literasi, untuk meningkatkan kemampuan literasi anak, termasuk anak berkebutuhan khusus, dengan memberikan 15 menit kepada setiap anak setiap harinya untuk membaca.

“Buku dapat dari perpustakaan. Kedepannya diharapkan akan ada pojok bacaan di setiap kelas.”, ujar Ibu Ida, salah guru wali kelas IV.

Pojok literasi ini akan menjadi warna baru dari ruang-ruang kelas di SDI Lili yang penuh dengan berbagai hasil prakarya siswa yang di gantung dan juga di tempelkan di dalam ruang kelas. Semua hasil prakarya ini di saat yang sama dapat digunakan sebagai salah satu alat mengajar yang kreatif dan murah meriah.

“Saya lebih suka sekolah. Belajar.”

Semua perubahan yang di rasakan sebagai perubahan positif oleh kepala sekolah dan guru ini, terjawab ketika kami bercerita dengan salah satu siswa berkebutuhan khusus dari SDI Lili yang akan mengikuti Lomba Lari Paralimpik tingkat Nasional. Sekalipun dia terkenal sebagai anak yang suka mengejar sapi dengan kondisinya low vision, dia ternyata suka pergi ke sekolah dan belajar bersama dengan temantemannya.

“Beta (saya) suka pelajaran IPS, Kakak. Yang ada belajar soal bagian tubuh manusia tuh! Eh, IPA!”, ujar Rinto, yang kami sambut dengan tawa renyah kami bersama karena ia keliru menyebutkan nama pelajaran yang ia maksud.

Namun, komitmen ini tentu untuk dapat menjadi semakin kuat dan dapat disebarkan kepada sekolah lainnya, sekolah ini membutuhkan dukungan dan perhatian penuh dari pemerintah.

“Perhatian untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Selain itu, sosialisasi juga untuk orang tua dan masyarakat. Karena setahu saya di masyarakat masih banyak orang dan anak berkebutuhan khusus yang belum tersentuh pendidikan dan dibiarkan begitu saja.”, ujar ibu Juliana.

Selanjutnya, beliau menekankan tentang pentingnya pemerintah melakukan peningkatan SDM Guru yang mengajar di sekolah penyelenggara pendidikan inklusif.

“Ketika gurunya sudah paham apa tugas pelayanannya sebagai seorang guru, sehingga ia bisa berpikir apa yang jadi kebutuhan anak. Itu dulu yang pertama,” jelas beliau.

Beliau juga menekankan untuk dukungan anggaran bagi sekolah dan siswa di sekolah penyelenggara pendidikan inklsif, untuk mendukung pembangunan sarana pra-sarana dan juga untuk dapat membuat anak-anak semakin terbantu dalam mengikuti pendidikan.

“Walaupun sudah ada PIP, tetapi tetap perlu ada dukungan bagi siswa berkebutuhan khusus dalam bentuk anggaran di tingkat daerah. Begitu juga sarana lainnya, seperti penambahan ruang belajar dan perbaikan gedung dan sanitasi secara reguler. Tidak memenuhi jumlah rombel dan tidak aksesibel.” Tutup beliau dengan mimik yang serius.

(*Sischa Solokana)
***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *