Menjemput harapan di Sekolah Dasar Inpres Kuanheun

“SEKARANG Kita fokus pada anak-anak yang memiliki Nilai yang Rendah”

Sejak tahun 2015 Ibu Fatimah, (Kepala Sekolah Sekolah Dasar Inpres Kuanheun, red), mulai terlibat dalam upaya-upaya mendukung pendidikan inklusif. Proses pengenalan pendidikan inklusif sendiri dilakukan lewat proses belajar mandiri melalui media cetak dan literatur-literatur formal. Dukungan terhadap persamaan hak dalam memperoleh pendidikan inklusif dimulai lewat proses penerimaan murid baru pada tahun yang sama. Diawali dengan proses assessment terhadap anak dengan disabilitas, Tirsa Sede, murid dengan hambatan penglihatan, murid pertama yang diterima untuk bersekolah di Sekolah Dasar Inpres (SDI) Kuanheun dalam masa kepemimpinan Ibu Fatimah.

Sejak menerima anak dengan disabilitas hal pertama yang dilakukan oleh Ibu Fatima adalah merubah Visi dan Misi SDI Kuanheun, dari dulunya “Unggul dalam prestasi, sehat jasmani dan rohani” menjadi “Ungul dalam Prestasi berbudi pekerti luhur, berakhlak yang mulia dan Bertakwah pada Tuhan Yang Maha Esa”. Bila masih ada Kata ‘sehat Jasmani dan Rohani’ maka akan menjadi hambatan bagi anak-anak dengan disabilitas untuk bersekolah di sekolah yang beliau pimpin, dua kata diatas dirasa mendiskriminasi seseorang.

Ibu Fatimah mengikuti pelatihan karena didorong oleh inisiatif sendiri agar bertambah pengetahuan sehingga dapat memberikan pelayanan maksimal bagi anak-anak dengan disabilitas. Ibu Fatimah menyadari selama ini pemahaman mengenai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK) dan Pendidikan Inklusif sendiri belum utuh, untuk itu peningkatan kapasitas guru menjadi sesuatu yang dirasa sangat penting. Ibu Fatima juga memilih Ibu Jumima Toy (Ibu Toy, red) untuk mengikuti kegiatan peningkatan kapasitas guru terkait isu pendidikan inklusif karena menurut beliau, Ibu Toy merupakah salah satu guru yang kreatif. Ibu Toy sendiri adalah guru wali kelas 1 yang salah satu muridnya bernama Glemens Aerisky Anin, seorang penyandang disabilitas berat. Bagi ibu Toy, ia baru pertama kali mengenal pendidikan inklusif saat berkesempatan mengikuti
pelatihan ini.

“Saya dulu membedakan mereka di kelas, saya tidak mau peduli! Namun setelah mengikuti pelatihan, dengan sendirinya saya paham bahwa tidak seharusnya membedakan mereka”, begitu ungkapan reflksi Ibu Toy tentang pengalaman mengajar murid-murid ABK di kelasnya.

Dampak positif yang beliau rasakan yaitu respon positif dari Glemens Aerisky Anin untuk perhatian yang dia terima dari Ibu Jumina Toy, “Saya dapat merasakan kasih sayang yang lebih dari Glemens, dia selalu lebih peduli terhadap saya. Hal itu terlihat dari ekspresi Glemens ketika bertemu dengan saya, dia begitu terfokus kepada saya dibanding ke orang lain.” Paparnya dengan penuh semangat.

Ibu Fatimah dan Ibu Jumina Toy mengakui bahwa mereka mulai memahami karakteristik dan kebutuhan anak-anak berkebetuhan khusus; dan bahwa mereka perlu ‘lebih menerima’ murid-muridnya sebagai pribadi unik dengan kekhususan mereka masing-masing. Selain itu, Ibu Fatimah juga mengusahakan kelanjutan pendidikan muridnya, khususnya yang memiliki kondisi dengan disabilitas.

“Dulu kami hanya memahami anak dengan disabilitas secara otodidak sekang kami cukup paham mengenai anak disabilitas,” ujar Ibu Toy.

Berbagai inisiatif dilakukan oleh Ibu Fatimah antara lain, menghubungi Pengawas SD Kota Kupang, Bapak Budi Suwarso, salah satu fasilitator dalam pelatihan guru, untuk membicarakan kelanjutan studi dari Glemens Aerisky Anin. Mempertimbangkan kebutuhannya seiring dengan bertambahnya usia Glemens, yang bahkan saat ini harus dipapah ketika akan mengikuti aktivitas di kelas. Secara intelektual, dengan kondisi flaccid cerebral palsy (Penurunan tonus otot atau ketegangan) yang ia miliki, tetapi menurut beliau, ia mampu untuk dididik dan belajar bersama dengan siswa lainnya di kelas, namun hambatan terbesar Glemens Aerisky Anin adalah kesulitas dalam mobilitas, termasuk aktivitas menulis, kepedulian beliau di dorong oleh semangat untuk memastikan Glemens Aerisky Anin mendapat dukungan yang lebih maksimal sehingga kedepannya diharapkan Glemens bisa menjadi lebih mandiri. Saat ini Ibu Fatimah dan Ibu Jumina Toy memberikan kesempatan bagi orang tua dari Glemens Aerisky Anin agar dapat terlibat aktif di Sekolah. Selaku Kepala Sekolah, Ibu Fatimah juga memberikan arahan bagi guru-guru agar memberikan prioritas bagi anak-anak yang mengalami hambatan belajar,

“kalo dulu KKM sudah mencapai nilai 90, sementara ada yang 60 dan 70, kita cenderung fokus dan memberikan perhatian kepada murid yang pintar, sekarang di fokuskan pada murid yang memiliki nilai yang rendah, supaya dapat berkembang secara bersama sama,”, jelas beliau.

“Sebelum memahami mereka kita sering mengunakan kalimat bodoh bagi anak-anak yang kita rasa memiliki pemahaman terbatas atau lambat belajar”.

Namun sekarang setelah mengikuti pelatihan Ibu Toy mengungkapkan bahwa sekarang beliau lebih memberikan perhatian kepada anak-anak yang memiliki kebutuhan khusus.

Setelah mengikuti kegiatan dalam proyek pendidikan inklusif, Ibu Toy merasakan perubahan dalam diri sendiri terkait semakin meningkatnya kepedulian terhadap Glemens Aerisky Anin untuk menolong Glemens melakukan aktivitas belajar dikelas. Salah satu dukungan langsung yang diberikan Ibu Toy secara sukarela yang awalnya adalah orang yang jijikan pun, sekarang sudah berani membersihkan air liur Glemens yang menetes agar tidak membasahi kertas kerja/tugas dan memapah Glemens dari kursi roda ke kelas dan sebaliknya.

Pemahaman beliau mengenai ABK dan Pendidikan Inklusif mengubah cara pandangnya, dan menggugah hatinya untuk memberikan perhatian bagi murid yang memiliki kebutuhan khusus. Glemens terlihat lebih bersemangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran di sekolah karena lingkungan dimana dia berada adalah lingkungan yang ramah dan menerima kehadirannya.

“Setelah pulang dari pelatihan saya mulai mempraktekkan apa yang saya terima, dan dimulai dari hal-hal yang terlihat kecil seperti membuat daftar hadir yang cukup menarik dengan melibatkan partisipasi murid.

“Saya pun tidak lagi memaksa murid ABK agar sama dalam mengikuti pelajaran dengan murid reguler lainnya, saya mulai menerapkan apa yang saya peroleh di kelas saya. Saya pun mulai memberikan sosilisasi kepada guru-guru agar tidak lagi mengunakan kata-kata yang kurang pantas, seperti Bodoh dan penyebutan nama hewan ke anak ketika guru mengangap anak nakal atau tidak mampu mengikuti pelajaran di kelas”.

Ungkapan Ibu Fatimah di atas, menjelaskan bahwa beliau mulai memberikan penyadaran kepada para guru agar memberikan pelayanan yang maksimal,

“kalau murid belum mampu ya harus diulang ulang pelajarannya. Saya juga sering menekankan kepada para guru agar tidak lagi melakukan kekerasan pada anak dan lebih kreatif ketika memberikan pelajaran, misalnya medorong partisipasi anak dalam proses belajar lewat media alat peraga yang dimiliki, salah satunya mengenai pengenalan tubuh manusia, anak diminta menjelaskan angota tubuh manusia secara mandiri. Dan bagi anak pintar, karena rasa ingin tahu dari anak pintar biasanya sangat besar. Makanya saya sering menyampaikan kepada guru bila anak pintar sudah selesaikan tugas yang berikan oleh guru maka harus diberikan soal yang lebih menantang lagi supaya mereka tidak mengangu teman lainnya”, tambahnya.

Sekalipun masih banyak hal yang perlu dipersiapkan dan ditingkatkan untuk penyelenggaraan pendidikan inklusif seperti aksesbilitas fiik, penyesuaian kurikulum, dan lingkungan sosial, Ibu Fatimah berharap anak dengan disabilitas dapat mendapatkan pelayanan maksimal yang sesuai dengan kebutuhannya, sehingga anak bisa bersosialisasi dan diterima oleh lingkungannya.

Beliau juga mengharapkan mengharapkan ada dukungan dana dari pemerintah dan DPRD, yang dapat disalurkan ke sekolah-sekolah untuk menolong anak-anak berkebutuhan khusus dan adanya peningkatan kapasitas guru yang dilakukan secara reguler agar guru paham dan tahu bagaimana memberikan pelayanan kepada anak berkebutuhan khusus. Dana yang ada tidak harus langsung dikelolah oleh sekolah, tapi bisa dikelolah di tingkat Dinas atau instansi terkait namun peruntukkannya bagi sekolah-sekolah yang menyelengarakan pendidikan inklusif.

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *