Tapi Untuk Berhenti, Sonde!

Mengasihi anak-anak! Karena sebelum ketong mengikuti pelatihan itu, kadang kalau beta secara pribadi tangani anak yang diasbilitas itu kadang-kadang rasa jengkel, kadang ju beta abaikan dong begitu”

(“Sebelum kami mengikuti pelatihan, secara pribadi kadang kami merasa kesal dalam melayani anak-anak dengan disabilitas, terkadang saya mengabaikan mereka”).

Siang itu saat kami melintasi desa Kuanheun, tidak sengaja kami bertemu dengan Ibu Ina dan Ibu Trifin, yang baru saja selesai mengajar di PAUD Lahairoi. Di samping PAUD Lahairoi, berawal dari cerita ringan berlanjut menjadi berbagi pengalaman ketika kami mengundang kedua guru PAUD ini dalam kegiatan pelatihan guru yang diadakan oleh Handicap International.

Ibu Ina telah mengajar selama 4 tahun di PAUD Lahairoi, sedangkan ibu Trifin baru saja menjadi guru PAUD di tahun ini. Disela-sela kesibukan mereka sebagai mahasiswi, mereka tetap menjaga komitmen dan kesetiaan mereka untuk mendampingi anak-anak sampai hari ini.

Berbicara tentang keterlibatan Ibu Ina dan Ibu Trifin dalam kegiatan tentang pendidikan inklusif, berawal dari adanya beberapa anak PAUD yang memiliki kondisi dengan disabilitas. Kondisi ini, membuat Ibu Ina dan Ibu Trifin melihat kebutuhan untuk meningkatkan kapasitas mereka sebagai guru, dalam hal penanganan anak disabilitas di dalam kelas mereka. Pemahaman yang kurang dalam isu disabilitas ini, membuat mereka terkadang mengambil tindakan yang kurang tepat dalam memperlakukan anak disabilitas di dalam kelas. Hal ini diungkapkan Ibu Ina, saat menceritakan pengalamannya sebelum mengikuti pelatihan dari HI.

“Sebelum ketong mengikuti itu pelatihan tuh kadang ketong juga paksa anak-anak dengan disabilitas untuk bisa sama dengan anak-anak yang non disabilitas”.

(“Sebelum kami mengikuti pelatihan penyadaran tentang pendidikan inklusif dan pedagogi kami terkadang memaksa anak-anak dengan disabilitas agar sama dengan anak-anak non disabilitas”).

Pertengahan Juli 2017, di tengah kesibukan mengajar, Ibu Ina mendapat kunjungan dari Handicap International (HI). Kunjungan dari HI ini bertujuan untuk mengajak Ibu Ina mengikuti pelatihan guru yang diselenggarakan oleh HI. Hal ini disambut positif oleh Ibu Ina, mengingat keinginan yang sangat kuat untuk belajar tentang isu disabilitas dan agar tidak ada lagi perlakuan yang keliru terhadap anak-anak yang memiliki kondisi disabilitas.

Menindaklanjuti undangan yang diberikan oleh HI, pada tanggal 14-16 Agustus 2017, Ibu Ina dan Ibu Trifin, kemudian mengikuti pelatihan “Pengenalan Pendidikan Inklusif untuk Guru”. Ibu Ina berujar, saat pelatihan, ia memiliki harapan besar bahwa berbekal pengetahuan dan koneksi yang mereka peroleh dari pelatihan ini, mereka bisa mengumpulkan orang tua dari anak-anak disabilitas untuk diberikan informasi tentang disabilitas, sehingga orang tua juga ikut berperan aktif dalam mengusahakan pendidikan yang layak bagi anak-anak mereka.

“Ketong pung harapan khusus kepada anakanak yang disabilitas, karena disini ni pokoknya perhatian dari orang tua sangat kurang. Jadi ketong pung harapan karena ketong tadi ikut pelatihan ketong berharap mau kasih kumpul itu orang tua yang dia punya anak itu, supaya kalau bisa kak Sischa atau siapa datang bisa kasih penjelasan”

(“Kami memiliki harapan khusus bagi anakanak disabilitas, karena di Desa Kuanheum Masih terlihat kurangnya perhatian orang tua terhadap mereka. Kami berharap dapat mengumpulkan Orang Tua yang mempunyai Anak dengan Disabilitas supaya diberikan pemahaman mengenai pendampingan terhadap Anak dengan disabilitas, oleh Sisca atau pihak lainnya yang berkompeten.”)

Disisi lain, Ibu Ina dan Ibu Trifin juga mengutarakan harapan mereka kepada pemerintah untuk lebih memperhatikan penanganan khusus bagi anak-anak disabilitas, dengan memberikan perhatian yang sesuai bagi kebutuhan anakanak dengan kondisi disabilitasnya. Setelah mengikuti kegiatan pelatihan yang diselenggarakan oleh HI, Ibu Ina dan Ibu Trifin merasakan adanya perubahan baik dalam hal pengetahuan, sikap ataupun perilaku mereka terhadap anak-anak dengan kondisi disabilitas. Beberapa contoh nyata perubahan yang telah diterapkan oleh kedua guru PAUD ini adalah cara mengajar dan pemilahan kata-kata yang digunakan dalam berkomunikasi dengan anakanak disabilitas,

“Jangan gunakan kata cacat, karena itu yang selama ini ketong pakai disini, menghilangkan kata bodoh, buta”

(“Jangan mengunakan kata cacat, karena sebelumnya kami sering memakai kata tersebut juga menghilangkan kata bodoh dan buta”)

Adapun hal lain yang berubah yaitu kesadaran tentang pentingnya pendidikan bagi anak-anak dengan kondisi disabilitas, yang diungkapkan oleh Ibu Trifin.

“Sonde, maksudnya kemarin tuh kan ketong sonde terlalu ke apa e, ya biar sudah dong mau datang, na datang begitu, tapi sekarang kan ketong ju setelah belajar ternyata dong ju butuh pendidikan yang sama ke anak lain”

(“Sebelumnya kami tidak terlalu memberikan perhatian, jika anak dengan disabilitas ingin hadir disekolah ya silahkan tapi seadanya saja, tapi sekarang kami paham ternyata mereka juga butuh Pendidikan yang sama”)

Kesadaran akan pentingnya pendidikan bagi anak-anak disabilitas, memicu kedua guru PAUD ini memperjuangkan hak pendidikan yang layak bagi anak-anak disabilitas yang berada disekitar lingkungan mereka. Usaha ini dimulai dari mengunjungi rumah anak-anak tersebut, Ibu Inda dan Ibu Trifin berusaha untuk membangun komunikasi serta mendorong orang tua untuk membawa anak ke sekolah.

“Ketong sonde mau dong tuh dibedakan. Terus ketong rangkul dong dalam arti supaya dong sonde terlalu terkurung di rumah toh. Supaya dong punya wawasan bahwa oh ternyata sekolah tuh enak, banyak kawan, bermain permainan macam-macam. Jadi dong seharusnya ada gairah gitu, supaya jangan terlalu terkurung di rumah”

“Karena memang dong butuh pendidikan juga toh jadi kalau ketong sonde seperti itu otomatis dong sonde akan terdaftar begitu, dalam arti kalau sonde kasih ingat orang tua pasti dong orang tua juga sonde ada kemauan untuk kasih sekolah dong pung anak dong, jadi ya ketong buat begitu supaya orang tua punya inisiatif untuk antar begitu”

(“Kami tidak mau anak-anak dengan disabilitas dibedahkan. Kami terus merangkul supaya mereka tidak hanya berkatifias dirumah dan mereka memiliki pemahaman bahwa ternyata bersekolah itu enak, banyak teman dan banyak permainan yang dapat dilakukan bersama-sama sehingga mereka menjadi bergairah dan tidak hanya ‘dikurung’ dirumah”. )

(“Anak dengan disabilitas butuh pendidikan jadi jika kita tidak merangkul mereka, maka mereka tidak akan didaftar di sekolah, bila orang tua tidak diingatkan maka kurang kemauan untuk menfasilitasi anaknya agar dapat bersekolah, kami mendorong agar orang tua berinisiatif untuk membawa anaknya ke sekolah”)

Pernyataan Ibu Trifin di atas menjadi salah satu alasan yang kuat, mengapa mereka berdua begitu gigih untuk memperjuangkan hak pendidikan yang layak bagi anak-anak dengan disabilitas disekitar lingkungan mereka. Ia tidak ingin anak-anak disabilitas dibedakan dengan anak-anak yang non disabiltas. Ibu Trifin ingin agar anak-anak disabilitas memiliki wawasan yang luas, memiliki teman yang banyak, serta mendapatkan kesempatan bermain sama seperti teman-teman sebayanya.

Ibu Ina menegaskan kembali bahwa perubahan yang paling berarti ini adalah ketika anak-anak disabilitas kembali mendapatkan hak mereka untuk mendapatkan pendidikan yang layak, juga termasuk di dalamnya adalah kesadaran lingkungan tentang kesamaan hak antara anak-anak disabilitas dan yang tidak disabilitas.

“Karena ketong melihat ketong pung keadaan disini itu, dulu anak-anak yang disabilitas itu sonde dianggap, tapi sekarang mereka sudah punya hak, jadi ketika itu berharap supaya dengan pengetahuan yang ketong dapat, dengan pelatihan-pelatihan yang ketong dapat, ketong ingin supaya orang-orang disekitar, lihat dan tahu bahwa yang dulu dong anggap anakanak disabilitas son punya hak sekarang ketong bisa buat dong sadar bahwa anak-anak yang ada di ketong pung sekitar, yang disabilitas itu dong tuh sama seperti anak-anak yang lain”

(“Sebelumnya Kami melihat disini (Baca: Desa Kuanheum) anak-anak denggan disabilitas tidak dianggap tetapi sekarang hak mereka mulai diperhatikan. Kami berharap dengan pengetahuan yang kami miliki (pasca Pelatihan), kami berharap masyarakat disekitar kami bisa paham bahwa anak dengan disabilitas juga punya hak yang sama seperti anak-anak lainnya.”)

Perubahan pemahaman dan sikap yang terjadi dalam diri mereka secara pribadi ini menjadikan mereka pejuang bagi anak-anak disabilitas untuk mendapatkan pendidikan yang layak. Mungkin perjuangan ini terlihat baik di mata kebanyakan orang, namun kenyataannya tidak semua mata mampu melihatnya dengan sikap optimis. Sebaliknya respon yang didapat oleh kedua guru PAUD ini, seolah-olah melemahkan semangat juang mereka untuk anak-anak disabilitas di lingkungan mereka.

Mulai dari kurangnya partisipasi orang tua untuk menyekolahkan anak mereka, sampai opini orang-orang sekitar yang pesimis terhadap masa depan anak-anak ini dan mengecam bahwa apa yang dikerjakan oleh kedua guru PAUD, untuk memperjuangkan pendidikan anak-anak disabilitas ini seolah-olah akan berakhir dengan sia-sia. Hal ini diungkapkan oleh kedua guru ini, sambil meniru perkataan orang-orang dilingkungan sekitar mereka;

“Kadang ada orang-orang yang lihat, tetangga dong yang bilang “hi dong sonde ada kerja”, ko dong su begitu kenapa harus paksa”

(“Kadang ada tentanga mengatakan “ Mereka (Bu Trifin dan Bu Ina) kurang kerjaan, anak dengan disabilitas sudah tidak perlu dilayani”)

“Dong bilang, dia mau jadi apa nanti kalau dia su besar? Maunya dong bilang dia mau buat apa ju nanti, ko dia su begitu, dia pung keadaan su begitu, dia mau buat apa, sekolah buat apa. Dia sonde bisa buat apa-apa le.”

(“Tetanga mengatakan “anak dengan disabilitas bila sudah besar akan jadi apa? Mereka bisa buat apa? Dengan kondisi disabilitasnya mereka melakukan apa?, sekolah apa gunanya? Mereka tidak bisa berbuat apa-apa”)

Lalu, dengan adanya tantangan-tantangan dari orang tua dan masyarakat di lingkungan sekitar, apa yang selanjutnya akan dilakukan oleh ibu Ina dan ibu Trifin?

Kata-kata itu yang kadang buat ketong sebagai guru juga berasa mau menyerah. Ya mungkin lemah sedikit, tapi untuk berhenti sonde!

(Terkadang kata-kata mereka mempengaruhi kami, namun untuk berhenti melayani anak dengan disabilitas, jawabannya adalah Tidak!)

***

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *